Friday, November 9, 2007

Sunday Talks 19 August 2007 (How Long?)

Berapa Lama?”



August 19th, 2007



OM… OM… OM…



Sai Ram



With Pranams at the Lotus Feet of Bhagavan,



Dear Brothers and Sisters,





Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai pencerahan (pembebasan)?

Topik minggu lalu adalah “No More” dan untuk pagi ini, topiknya adalah “How Long?” Pertanyaan seperti ini sering muncul setiap saat dan dalam setiap tahapan kehidupan kita. Seberapa jauhkah kampus itu dari sini? Seberapa jauhkan Mandir dari sini? Berapa lama agar supaya bisa sembuh total? Saat ini saya sedang meminum obat-obatan. Berapa lama lagi saya perlu mengkonsumsinya? Pertanyaan ini berkaitan dengan waktu yang diperlukan untuk mendapatkan kesembuhan dari penyakit. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke sana?

Jadi, kita ingin tahu berapa lama waktu yang diperlukan, berapa lama saya harus menunggu, atau berapa lama sebelum Swami melihat aku. Berapa lama? Pertanyaan ini telah menyita perhatian setiap orang di setiap aspek kehidupan. Berapa lama waktu yang diperlukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan? Tiga tahun. Lalu, berapa lama waktu untuk meraih gelar PhD? Empat tahun.

Pertanyaan-pertanyaan serupa juga diajukan dalam bidang spiritual; kita tidak bisa mengingkari hal ini. Seperti halnya manusia modern yang mengupayakan solusi instan, persis seperti kita mempunyai instant food (makanan instan/siap-saji) dan kopi instan, maka kita juga menginginkan 'instant' God berdiri di hadapan kita. Segalanya harus siap-saji. Inilah trend dunia modern. Oleh sebab itu, marilah kita mengkaji “How long?” dari sudut pandang jalan spiritual. Marilah kita mencoba mencari jawabannya.

Ada orang yang bertanya kepada Bhagawan Baba, “Swami, berapa lama waktu yang dibutuhkan agar dapat mencapai pencerahan (pembebasan)? Apakah satu atau dua tahun, ataukah satu atau dua kehidupan? Ataukah berapa tahun cahaya? Berapa banyak kehidupan? Berapa lama?”

Sementara itu, ada seseorang yang memiliki pandangan yang cenderung agak menyimpang: “Swami, saya sudah tinggal di sini sekian lama. Namun saya masih dalam kegelapan. Berapa lama lagi saya baru bisa menerima cahaya penerang? Berapa lama lagi saya baru bisa dibebaskan, mencapai nirvana atau surga? Berapa lama ya? Apakah mungkin dalam setahun? Ataukah dalam setengah tahun?

Belakangan ini, ada beberapa orang yang bahkan bisa memberikan jaminan kepada anda berhasil dalam mencapai pencerahan hanya dalam tempo satu bulan saja, asalkan anda bersedia membayar lebih! (tertawa) Ada pula orang yang bisa menjamin anda mencapai samadhi, jikalau anda bersedia membayar sejumlah uang. Mereka juga bisa menerbitkan tanda-terima pula! (tertawa) No problem. Liberation.... hanya dalam tempo empat bulan. Bagaikan kontrak kerja saja! That's it. Mereka memberi tanda-terima... tanda-terima moksha dan pencerahan! Inilah yang sedang terjadi dimana-mana, semuanya atas nama agama. Akan tetapi, sebenarnya ini merupakan tragedi, bahkan tragedi terburuk yang pernah terjadi.



Oleh sebab itulah, pertanyaanpun diajukan kepada Swami: “Berapa lama untuk mencapai pencerahan?”



Swami balik bertanya kepada orang tersebut: “Kalau menurutmu, berapa lama?”



Swami, beberapa periode kehidupan.”



Oh! No, no, no – janganlah begitu gampang menjadi frustasi dong.”



Swami, setidaknya lima-puluh atau enam-puluh tahun.”



Saya berjalan mengitari Ganesha sebanyak seratus delapan kali setiap hari. Seberapa lama saya harus melakukannya? Saya melakukan puja setiap hari.... untuk berapa lama lagi? Saya membaca kitab-suci setiap hari. Seberapa lama lagi saya harus terus membacanya?”



Kita suka menanyakan hal yang sama berulang-ulang. Seberapa lama? Mengapa? Cukup wajar sebenarnya. Dewasa ini, kebanyakan anak-anak tidak pernah merasa puas dengan jawaban kita – no, no! Anda tidak bisa lagi mengatakan, “Sepanjang yang engkau bisa.” Jikalau seorang cucu bertanya kepada anda, “Berapa lama lagi kakek?” dan sang kakek menjawab, “Sepanjang yang kamu bisa”, maka si anak akan kembali menjawab, “Terima-kasih, but cukuplah sudah!”

Engkau bisa memperoleh pembebasan di sini dan sekarang juga

Teman-teman sekalian, coba perhatikan apa yang dikatakan oleh Swami, sebab banyak di antara kita yang mengajukan pertanyaan ini. Nah, apa yang dikatakan oleh Baba?



Swami tertawa dan memberikan jawaban ini: “Engkau bisa mencapai pencerahan di sini dan saat ini juga.” Bukan di sana dan di kemudian hari. Tidak peduli dimanapun juga. Di sini dan sekarang ini engkau bisa memperolehnya.



Orang itu berkata kepada dirinya sendiri, 'Hal ini tidak masuk akal. Kita sudah tinggal di sini sekian lama, bagaimana pula Baba bisa mengatakan di sini dan sekarang juga?”



Swami memberikan contoh. Terdapat berbagai gua seperti Gua Ajantai, Gua Elloraii dan Gua Battuiii di Malaysia. Di dalam gua-gua tersebut, kondisinya adalah gelap total. Tidak ada cahaya di dalam gua; sungguh amat gelap. Ada seseorang yang kebetulan melewatinya, dan ia melihat kondisinya sangatlah gelap. Kemudian ia memanggil orang lain yang juga kebetulan melintasi tempat tersebut.

Gua Ajanta

Gua Ellora

Gua Battu



Coba ke sini, sungguh amat gelap di dalam sana.”



Oh, apa benar?”



Betul pak, sungguh gelap. Sudah berapa lamakah kegelapan ini masih akan terjadi?”



Wah, tidak tahu. Sejak saya pertama kali melihatnya, kondisinya memang sudah gelap.”



Oh!”



Sejak zaman bapak saya, ia sudah gelap. Demikian pula, sejak zaman kakek saya, juga sudah gelap. Jadi, gua itu sudah dalam keadaan gelap selama beratus-ratus tahun. Saya tidak tahu persis berapa lama!”



Lalu orang yang pertama bertanya, “Apakah anda bisa mengira-ngira seberapa gelap gua itu? Apakah ia gelap total, atau separuh gelap ataukah betul-betul gelap & hitam pekat?”



Lalu orang yang ditanyai menjawab, “Saya masih ada pekerjaan lain yang harus dilakukan; tolong tinggalkan aku sendiri!” (tertawa)



Tak ada seorangpun yang bisa mengukur kegelapan. Namun, setiap orang bisa mengukur kadar terang cahaya. Ia bisa diukur berdasarkan intensitasnya, namun tidak demikian halnya dengan kegelapan. Oleh sebab itu, orang ini kemudian berpikir, “Apa yang bisa saya lakukan?”



Tiba-tiba dia melihat seorang aspiran spiritual, seorang yogi yang berlalu di situ. Ia bertanya, “Pak, saya menemukan bahwa gua ini sungguh sangat gelap. Kondisi demikian sudah terjadi sejak ratusan tahun yang lalu. Kira-kira berapa lama waktu yang diperlukan untuk mengusir kegelapan dari gua ini?” Sadhu atau orang saleh itu tertawa dan berkata, “Hal itu bisa dilakukan sekarang dan di sini juga.”



Kegelapan yang sudah eksis selama ratusan tahun bisa disingkirkan di sini dan sekarang juga?”



Yes sir.”



Bagaimana caranya?”



Coba saja bawa korek-api.”



Korek-api dibawa dan ia menyalakannya. Ketika ada cahaya, maka kegelapan-pun sirna. Kegelapan yang sudah ada selama ratusan tahun menjadi buyar berkat geretan korek-api. Jadi, bila ditanyakan seberapa lama waktu dibutuhkan untuk mengusir kegelapan? Maka jawabannya adalah bahwa kita bisa melakukannya di sini dan sekarang juga. Demikianlah, seberapa lamakah waktu untuk mencapai pembebasan, nirvana atau moksha? Jawabannya adalah di sini dan sekarang juga!

Ikuti Saya



Raja Janakaiv mengajukan satu pertanyaan kepada para cendekiawan, di depan umum dimana juga hadir para aspiran dan pribadi-pribadi yang sudah mengenyam banyak pengalaman. Ia mengajukan pertanyaan yang sama: Berapa lama waktu dibutuhkan untuk mencapai pembebasan (pencerahan)?



Tak seorangpun bisa menjawab pertanyaan tersebut. Kemudian datanglah Yajnavalkya, beliau adalah seorang guru. Ia berkata, “Oh raja, saya akan memberikan jawabannya.”

Yajnavalkya



Ya, Swami. Berapa lama dibutuhkan untuk mencapai pembebasan atau moksha?”



Yajnavalkya berkata, “Oh raja, ketika baginda melompat dan duduk di atas punggung kuda, di saat baginda memindahkan kaki dari satu pijakan ke pijakan lainnya, maka di saat itulah baginda akan mendapatkan moksha. Di detik kala baginda memindahkan kaki, dalam selang waktu yang singkat itu, baginda akan mencapai moksha.”



Apa, Swami! Dalam waktu sesingkat itukah?”



Ya, dengan syarat....”



Ah! Apa syaratnya?”



Ikuti saya.” Sangat simple.



Baiklah,” sang raja berkata, “Swami, saya akan mengikuti anda.”



Dengan sang guru yang berjalan di depan dan Raja Janaka di belakang, mereka keluar dari istana kerajaan. Mereka berjalan mengelilingi jalan-jalan terbuka di Mithilav, ibu-kota kerajaan. Guru berkata, “Oh raja, duduklah di sini.” Setelah duduk, guru itupun meninggalkannya dan raja itu tetap terduduk di sana.

Wilayah kerajaan Mithila



Setiap orang merasa heran dengan kejadian itu. Orang-orang menatap sang raja yang sedang duduk dengan mahkotanya di tengah-tengah jalanan. Coba bayangkan salah-satu dari kita duduk di dekat halte bis, sementara raja anda juga duduk di sana. Semua orang sangat terkejut melihat rajanya sedang duduk di situ.



Para menteri datang untuk membawanya pulang. “Oh baginda, mengapa anda duduk seperti ini?”



Sang raja tidak menjawab.



Berapa lama lagi baginda akan duduk di sini?”



Tidak ada jawaban juga. Oleh sebab itu, mereka pulang kembali ke istana dan mengirimkan panglima perangnya untuk membujuk agar sang raja kembali ke istana.



Oh baginda, berapa lama lagi kami harus menunggu untuk menjemput anda?” Sang raja tidak memberikan jawaban.



Akhirnya, sang ratu didatangkan. Ia membujuk, “Oh baginda, kami sudah menunggumu. Berapa lama lagi dikau menginginkanku untuk menangis seperti ini? How long? Please, pulanglah.”



Sang raja tetap tidak menjawab. Semua orang menangis, sebab sang raja memang disukai oleh setiap orang.



Ketika Yajnavalkya datang kembali, setiap orang berteriak kepadanya: “Hey, kau sungguh bodoh! You are stupid! Kau membuat raja kami duduk seperti ini. Kau telah menghina raja kami! Kau mengakibatkan raja kami menderita dan kehausan. Kau seharusnya tidak melakukannya!”



Yajnavalkya menjawab, “Apa sih yang sudah ku lakukan? Aku tidak melakukan apapun juga. Coba tanya saja kepada raja mengapa beliau seperti itu.”



Lalu semua orang bertanya kepada raja, “Di sini adalah guru baginda. Ia ingin baginda memberikan jawaban kepada kami. Oh raja, mengapa anda tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan kami? Kami hanya mempunyai dua pertanyaan: Seberapa lamakah baginda akan duduk di sini? Seberapa lama kami harus menunggu untuk menjemput raja kembali? Mengapa baginda tidak menjawab?”

Pada saat kita mengikuti guru secara penuh dan utuh dalam jiwa dan semangat, maka di saat itu kita sudah terbebaskan



Atas perintah gurunya, sang raja menjawab dan berkata, “barusan sekarang ini guru-ku memintaku untuk menjawab. Sebelumnya ia tidak meminta aku menjawab. Ia hanya meminta saya untuk berjalan-jalan bersamanya. Ia memintaku untuk mengikutinya. Aku mengikutinya dan kemudian ia memintaku duduk di sini – dan di sinilah aku duduk. Ia tidak memberi instruksi kepadaku untuk menjawab. Ia tidak menyuruh aku menjawab. Ia meminta aku duduk di sini. Oleh sebab itu, aku hanya duduk saja. Apa lagi yang bisa ku-lakukan?”



Lalu Yajnavalkya berkata, “Sekarang baginda telah terbebaskan.”



Teman-teman, yang hendak saya katakan adalah bahwa pertanyaan 'How Long?” ini selalu menghantui pikiran kita. Jawaban atas pertanyaan itu adalah: - segera, di sini dan sekarang juga – yaitu ketika kita mengikuti perintah guru kita, Bhagawan Sri Sathya Sai Baba. Di menit, di detik dan di momen kita mengikuti-Nya secara utuh dalam jiwa dan raga, maka ya, kita sudah terbebaskan, di sini dan sekarang juga.

Engkau menderita selama engkau masih melekat pada badan dan batinmu.

Pertanyaan lainnya adalah, “Seberapa lamakah saya harus menderita? Seberapa lamakah saya harus merasa sedih?”



Orang-orang menderita. Ya, orang-orang merasa sedih. Ada orang yang mengetahui penyebabnya; ada pula yang tidak tahu. Ada orang yang ingin mencari tahu penyebab atas kesedihannya. Tetapi kesedihan merupakan hal yang umum. Kita bertemu dengan orang-orang yang wajahnya muram dan tegang. Mereka tidak tahu mengapa mereka bersedih-hati. 'Berapa lama lagi saya harus menderita seperti ini? Berapa lama lagi saya harus bersedih?' Inilah pertanyaan mereka.



Jawabannya adalah sebagai berikut: Selama anda masih terikat kepada badan jasmanimu, selama anda masih melekat pada batinmu, maka anda akan terus-menerus menderita. Di momen anda meninggalkan kemelekatan atas badan, di kala anda mengetahui bahwa anda bukanlah badan, di saat anda mengalami bahwa anda bukanlah batin ini, maka di situ dan di saat itu juga, anda telah terbebaskan.



Jadi, berapa lama lagi saya harus menderita? Saya akan terus menderita selama saya masih memiliki perasaan badaniah dan selama saya masih merasa diri saya adalah batin (pikiran). Oleh sebab itulah, Swami berkata, “Be happy dalam mencapai pembebasan.” Inilah jawaban atas pertanyaan, “How long?” Jawabannya adalah: Di momen anda meninggalkan identifikasi badaniah dan kemelekatan pada mind (batin), maka anda telah bebas. Inilah liberation, sebagaimana yang diuraikan oleh Baba.



Swami, bisakah engkau membuatnya menjadi lebih jelas? Engkau mengatakan kita harus meninggalkan kemelekatan badaniah, melepaskan keterikatan terhadap batin. Kedengarannya enak, gampang untuk dituliskan, tetapi saya tidak memperoleh jawaban langsung atas pertanyaan sebelumnya. Mohon untuk diperjelas.”



Ada dua point yang akan menjelaskan secara gamblang apakah anda melekat pada badan jasmani dan batin atau tidak. Tetapi di zaman modern ini, kita umumnya tidak sabaran. Hari ini kita tak punya waktu untuk mendengarkan hal-hal yang baik, sementara itu kita mempunyai begitu banyak waktu untuk mendengarkan gossip. Kita tak punya waktu untuk beribadah, walaupun kita mempunyai sedemikian banyak waktu untuk disia-siakan.



Ayolah Swami, beritahulah saya sekarang juga, how long? Sebab jawaban yang Engkau berikan tidak begitu jelas buat saya. Engkau mengatakan, 'Lepaskanlah kemelekatan badaniah dan juga kemelekatan batiniah.' Fine! Lalu bagaimana saya bisa tahu kalau saya masih melekat? Bagaimanakah saya bisa tahu kalau saya sudah tidak melekat?”



Jikalau seandainya saya berkata, “Aku sudah tidak melekat terhadap badanku, tahukah anda?” Anda harus mempercayai hal ini, sebab hal ini terjadi pada diriku, teman-teman sekalian. Anda semuanya percaya kepada saya. Anda mengira Mr. Anil Kumar tidak mempunyai kemelekatan badaniah. Tetapi jikalau anda menyajikan kopi dingin atau setengah-setengah hangat, maka anda akan melihat betapa masih melekatnya saya terhadap badan ini. (tertawa) Saya ingin kopi itu mendidih! (tertawa) Jadi, bagaimanalah mungkin orang ini yang masih mensyaratkan kopinya disajikan dengan temperatur mendidih bisa berbicara tentang ketidak-melekatan? Hal itu sungguh mengerikan dan menggelikan! (tertawa)



Saya mungkin berkata, “Aku tidak melekat terhadap badanku.” Namun saya masih ingin makanan pedas untuk disantap. Jikalau saya pergi ke kantin western dan berkata, “Tolong tambahkan lagi chili powdernya (bubuk cabe)” dan lalu apabila saya mengatakan bahwa saya sudah tidak melekat terhadap badan, maka itu semuanya adalah drama belaka. Itu adalah kemunafikan. Oleh sebab itu, teman-teman sekalian, bagaimanakah caranya saya bisa mengetahui kalau diri saya sudah tidak memiliki body attachment? Bagaimanakah caranya mengetahui kalau kita sudah tidak melekat pada mind? Gimana caranya? Swami memberikan dua point yang sangat sederhana kepada kita.

Raga - Kemelekatan



Yang pertama adalah raga, sedangkan yang kedua adalah dwesha. Raga adalah kemelekatan atau kesukaan, sedangkan dwesha adalah kebencian atau ketidak-sukaan. Saya berkata bahwa saya tak memiliki identifikasi badan jasmani, tetapi di momen saya melihat orang-orang (kesukaan) saya, maka saya akan bangun dan memeluknya. Nah, bagaimanakah mungkin bagi saya untuk mengatakan bahwa sudah tidak ada lagi kemelekatan badaniah? Apa penjelasan untuk hubungan itu? Dimana terdapat kemelekatan, maka di sana pasti ada kesadaran badaniah. Dimana terdapat kemelekatan psikologis dan mental, maka di sana kita akan terikat baik secara fisik maupun mental. Jikalau kita masih melekat terhadap orang-orang yang kita sayangi, atau terhadap obyek materi, institusi ataupun individu, maka itu semuanya adalah pertanda bahwa masih adanya kemelekatan.



Sebenarnya, ada orang yang malah melangkah lebih jauh. Jikalau anda melekat pada nama dan rupa, maka itu sebenarnya juga adalah kemelekatan. Kemelekatan terhadap nama dan rupa tetap saja merupakan kemelekatan. Anda tidak bisa mengatakannya sebagai 'detached attachment' (kemelekatan yang sudah terlepas) atau 'attached detachment' (ketidak-melekatan yang masih melekat). (tertawa) Itu hanya permainan kata-kata saja! Oleh karenanya, secara spiritual, kita seharusnya tidak melekat dalam bentuk apapun juga. Segala bentuk adalah miliknya, sehingga oleh sebab itu, mengapa anda mengatakan bahwa aku hanya melekat pada bentuk ini saja? Jikalau Beliau berkata, “Segala nama adalah milik-Ku”, lalu mengapa pula anda mengatakan bahwa diri anda hanya melekat pada nama ini saja? Kemelekatan tetap saja merupakan kemelekatan.

Kalau begitu, apa dong solusinya? Jikalau anda menemukan nama yang anda cintai di dalam setiap nama-nama yang lain, maka itu adalah ketidak-melekatan. Jikalau anda menemukan bentuk atau rupa yang anda sukai di dalam setiap bentuk, maka itu adalah ketidak-melekatan. Bila anda membatasi nama dan rupa itu menjadi ukuran tertentu (tinggi dan berat tertentu), maka itu merupakan attachment. Saya rasa cukup jelas bukan? Oleh sebab itu, teman-teman, hal-hal tersebut berfungsi sebagai identifikasi atas badan jasmaniah. Identifikasi terhadap batin (pikiran) bisa diketahui melalui simptom awal penyakit, yaitu ada atau tidaknya kemelekatan. Seperti halnya typhoid ataupun panas tinggi, inilah simptom awalnya.

Dwesha – Ketidak-sukaan atau kebencian

Point yang kedua adalah ketidak-sukaan atau kebencian. Kita mungkin tidak menyukai atau membenci mereka yang tidak sepaham dengan kita, yang tidak sependapat dengan kita, yang tidak satu kelompok dengan kita, yang tidak memuji kita atau bahkan mereka yang tidak bertepuk-tangan ketika kita sedang berbicara di atas pentas. (Orang yang berpendapat seperti ini tentu sangat menyedihkan sekali, karena dia tidak tahu bahwa tindakan bertepuk-tangan juga bisa diartikan bahwa para hadirin sebenarnya memintanya untuk segera turun dan menghentikan ceramahnya!) (tertawa) Kita mendengar tepukan tangan dalam kedua kesempatan, yaitu di kala orang-orang sedang memuji ceramah kita dan momen yang satunya lagi adalah di kala orang-orang berkata (di dalam hati), “Terima-kasih, kini sudah waktunya bagi anda untuk segera pergi!” (tertawa) Oleh sebab itu, segala jenis reaksi itu adalah diakibatkan oleh karena ketidak-sukaan atau kebencian.



Lagian pula, bila kita berbicara dari aspek spiritualitas atau filosofis, di kala saya sedang sendirian di ruangan ini, saya tidak bisa mengatakan, “Saya membenci seseorang di sini.” Tak ada orang di sekitar dan semua pintu sedang terkunci; jadi bagaimana mungkin saya bisa mengatakan, “Aku membenci seseorang di sini?” Jikalau saya tetap mengatakan demikian, maka ketika pintu ini dibuka, seorang dokter akan segera siap untuk menjemput dan merawat saya! Jadi, dengan demikian, ketidak-sukaan atau kebencian juga adalah salah-satu bentuk kemelekatan.



Pikiran tentang kebencian hanya muncul jikalau terdapat dua orang individu; sebab apabila hanya ada satu orang, maka permasalahan tersebut tidak akan timbul. Oleh sebab itu, teman-teman, untuk mengetahui apakah kita masih memiliki identifikasi badaniah ataupun kemelekatan terhadap batin, coba saja lihat dan analisa apakah kita masih memiliki kedua point berikut ini, yaitu: kemelekatan atau kebencian (raga atau dwesha).

Apabila tidak ada kemelekatan, maka engkau tidak akan didikte oleh badan jasmani

Di saat saya tidak memiliki kemelekatan, dan di saat saya tidak memiliki kebencian, maka di saat itu pula saya menjadi tahu bahwa saya adalah satu di dalam keaneka-ragaman (the One-in-the-many). The One yang ada di dalam dirimu adalah sama dengan the One yang ada di dalam diri saya. The One di dalam diri anda, saya, dan setiap orang adalah satu dan sama. Diri (Self) yang satu itu hadir di dalam diri setiap orang. Tidak ada duanya. Oleh karena tidak ada duanya, maka hanya ada satu adanya. Siapa yang anda cintai, dan siapa yang anda benci? Apabila memang ada dua (orang), maka mencintai dan membenci akan masuk dalam arena. Tetapi jikalau hanya ada satu, maka tidak akan ada pertanyaan tentang rasa suka atau tidak suka, cinta atau benci. Oleh sebab itu teman-teman sekalian, sangatlah mudah untuk mengenali tentang hal-ihwal suka dan tidak suka ini.



Terdapat sebagian orang yang termasuk golongan kaum filosof setengah-matang. Mereka berkata, “Tahukah anda, Mr. Anil Kumar, dari sejak saya datang ke Prasanthi Nilayam, saya sudah tak mempunyai kemelekatan lagi.” Oh, I see. Tapi saya-kan belum menanyakannya kepada anda, namun toh anda sudah menceritakannya, hal ini menunjukkan bahwa diri anda masih terikat kepada pikiran anda. (tertawa)



Kemudian secara tiba-tiba kita melihat orang ini berbicara secara manis, penuh dengan senyuman. Air mukanya berseri-seri. Kalau anda menyelidiki lebih lanjut, terlihat bahwa rupanya orang ini baru saja bertemu dengan seseorang dari kampung halamannya, yang tidak saling bertemu selama lebih dari lima tahun. “Ah! Apa kabarmu? How are you?” Setelah itu, ia berkata, “Mr. Anil Kumar, saya tak mempunyai kemelekatan.” (tertawa). Bagaimanalah mungkin saya bisa mempercayainya? Apakah benar? Saya rasa tidak.



Oleh sebab itu, kemelekatan tidak jauh dari hal-hal yang berkaitan dengan isu hubungan darah, komunitas, negara, profesi, dan lain-lain.... selama masih adanya kemelekatan terhadap unsur-unsur tersebut, maka kita belum bisa menyatakan bahwa diri kita sudah tidak melekat terhadap badan jasmani. Jikalau ungkapan itu tetap diutarakan, maka itu hanya merupakan komentar politis. Saya hanya memiliki otoritas untuk menyatakan tidak melekat pada badan jasmani, yaitu hanya jikalau saya benar-benar sudah tidak memiliki kemelekatan.

Jikalau kebencian telah meninggalkanmu, maka engkau sudah menguasai batin(pikiran)mu.

Point yang kedua berkaitan dengan ketidak-sukaan atau kebencian. Apabila anda membenci seseorang, maka anda tidak bisa mengatakan bahwa anda sudah tidak terpengaruhi oleh pikiran anda.



Ada orang yang berkata, “Mr. Anil Kumar, aku sudah berada di luar jangkauan mind.”



Oh, oh, oh! Beyond the mind eh!? Coba beritahu saya dimanakan mind anda berada. Lalu beritahu saya kemanakah mind anda ketika anda sudah melampauinya. Coba saja cari dimana letak mind anda. Pergilah melampauinya dan coba beritahu saya apa yang terjadi di sana. Saya ingin tahu apa yang terjadi ketika anda berada di bawah mind, lalu ketika anda berada di dalam mind dan akhirnya apa pula yang terjadi jika anda berada di atasnya (melampauinya). Coba cari tahu. Saya akan bertemu dengan anda di sana.



Bagaimanakah caranya anda mengetahui bahwa diri anda bukanlah mind? Yaitu ketika anda tidak membenci ataupun tidak lagi memiliki dislike (rasa tidak suka), maka di kala itu, anda sudah beyond the mind. Ketika anda tidak terikat lagi kepada siapapun, maka anda sudah beyond the mind. Inilah kedua simptom ataupun tanda-tandanya. Apabila kita masih begitu melekat dan masih memiliki kebencian, maka pernyataan bahwa “I am above the body and beyond the mind” sungguh pernyataan yang terlalu dibesar-besarkan. Dengan perkata lain, itu adalah omong-kosong belaka.



Selama kita masihi terperangkap di antara kedua kutub kemelekatan dan kebencian, kita tidak akan pernah bisa keluar darinya. Itu adalah jawaban Swami. Selama kita masih memiliki kedua jenis perasaan itu, kita tidak akan pernah mencapai pembebasan. Demikian Bhagawan.



Swami, apa yang harus saya lakukan? Selama saya masih terjebak dalam kemelekatan dan kebencian, maka tidak ada harapan bagi saya untuk mencapai pembebasan ataupun nirvana. Jadi, apa yang harus saya lakukan?”

Mimasa atau Vicharana: Evaluasi diri



Bhagawan berkata, coba lakukanlah self-audit (evaluasi diri). Seperti halnya para pengusaha yang senantiasa memeriksa keuangannya setiap hari, atas laba dan rugi, marilah kita melakukan self-audit. Cobalah cari tahu seberapa melekatnya diri kita, seberapa parahnya kebencian yang ada di dalam diri saya. Apakah saya sudah melangkah beyond badan jasmani ini atau belum? Apakah saya sudah memahami sifat & perilaku mind? Apakah saya sudah memahami diri saya sendiri? Hal-hal seperti ini bisa dijawab melalui self-audit.



Evaluasi diri ini disebut juga sebagai self-audit atau self-assessment, self-enquiry atau self-examination. Di dalam Bahasa Sanskerta, ia disebut mimamsa atau vicharana. Melalui self-audit, saya bisa mengetahui dimana keberadaan saya sekarang. Lalu saya akan memahami dan mengetahui seberapa lama lagi waktu yang saya butuhkan untuk mencapai pembebasan. Jawabannya harus saya cari dari dalam diri saya sendiri. Saya tidak bisa dan tidak perlu menanyakannya kepada orang lain.

Sebelas detik saja sudah cukup

Ada orang yang bertanya kepada saya, “Mr. Anil Kumar, Swami mengatakan bahwa waktu selama sebelas detik saja sudah cukup untuk keperluan bermeditasi. Saya sudah melakukannya selama satu jam, jadi berapa kali lagi saya baru bisa mendapatkan moksha atau pembebasan?”



Saya berkata, “Anda akan mendapatkan moksha dengan pangkat seratus (perhitungan matematis)!” (tertawa)



Lalu, mengapa Swami mengatakan hanya sebelas detik saja?”



Inilah pertanyaan yang diajukan kepada saya. Apa yang akan anda katakan jikalau berada di posisi saya? Secara sederhana saya menjawab, “Itu artinya bahwa anda mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi bahkan hanya untuk waktu sesingkat sebelas detik itu. Anda merasa tidak mungkin untuk dapat berkonsentrasi selama sebelas detik saja. Keceriaan dan kesenangan yang anda peroleh dalam tempo waktu sebelas detik itu (melalui upaya konsentrasi total dan meditasi utuh), cukup untuk memberikan bliss kepada anda, walaupun dalam kenyataannya anda mungkin duduk selama berjam-jam lamanya.”



Jikalau seorang siswa bertanya kepada saya, “Sir, berapa lama lagi saya harus membaca?” apa yang bisa saya katakan? “Bacalah hingga engkau memahaminya, mengingatnya dan masuk ke memorimu.” Jikalau seorang anak bertanya kepada ibunya, “Berapa banyak lagi saya harus makan?” Sang ibu akan menjawab, “Makanlah sebanyak yang kamu mau, hingga kamu tidak menginginkannya lagi.”



Demikianlah, berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh kita untuk menemukan diri kita yang berada di atas badan dan batin (pikiran)? Perjalanan menuju ke atas pikiran dan badan akan dapat dipahami, dievaluasi dan diukur dari waktu ke waktu melalui proses self-enquiry (evaluasi diri).



Ada orang yang mengajukan pertanyaan lain: “Berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencapai kebijaksanaan atau jnana?”



Di dalam perkuliahan, kita mengenal yang namanya sillabus atau mata pelajaran. Diperlukan waktu tertentu untuk menerima ajaran dan pelatihan. Saya bisa mengatakan bahwa untuk mencapai gelar tertentu, diperlukan waktu kuliah selama tiga atau dua tahun. Namun dalam hal untuk mencapai kebijaksanaan spiritual, berapa lama waktunya?



Bhagawan bertanya, “Tunggu! Berapa lama waktu yang engkau butuhkan untuk meraih gelar kesarjanaan?”



Tiga tahun.”



Oh, lalu berapa lama untuk meraih gelar doktor?”



Empat tahun.”

Kebijaksanaan akan terealisasikan di saat kita berada di tengah-tengah kehidupan kita



Bila demikian halnya, lalu bagaimana engkau bisa berharap untuk mendapatkan kebijaksanaan sekarang ini juga? Untuk hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan duniawi atau pengetahuan sekuler, engkau perlu belajar siang dan malam, bagaimana pula engkau bisa berharap kebijaksanaan muncul secara tiba-tiba? Pandanganmu itu sungguh tidak masuk akal!



Namun dalam hal ini ada satu point yang perlu diperhatikan. Dengan berbekal kebijaksanaan, maka kita tidak banyak didikte oleh faktor waktu. Yang lebih memegang andil adalah kondisi diri anda sendiri, yaitu apakah anda sudah menjadi diri anda yang sebenarnya? Kita-kita ini adalah bagaikan pendulum sebuah jam dinding, yang berayun dari kiri ke kanan dan sebaliknya, secara silih berganti dalam kepribadian kita. Oleh sebab itu, kita tidak pernah konsisten, kita bagaikan orang yang sedang kebingungan. Kebijaksanaan hanya bisa tercapai di kala kita berada di titik sentral kehidupan kita, yaitu just in being (menjadi diri kita sendiri).



Pada umumnya kita lebih tertarik dengan doing (melakukan), kita lebih mementingkan doing. Misalnya: aku melakukan latihan yoga di pagi hari, aku melakukan meditasi dan aku melakukan bhajan. Semuanya itu adalah doings-nya kita. Namun being adalah jauh lebih penting daripada doing. Pada saat anda berada di titik-tengah, maka itu adalah saat dimana anda bisa mengatakan, “Aku mempunyai kebijaksanaan.”



Kemudian Bhagawan menjelaskan point berikutnya. Secara sederhana, Swami menjelaskan seberapa lamanya waktu yang diperlukan untuk memperoleh kedamaian. Inilah pertanyaan yang diajukan kepada Beliau. Swami tertawa dan mengatakan bahwa orang yang menanyakan pertanyaan ini pastilah tidak mempunyai kedamaian sama sekali saat ini. Untuk itu, sebagai langkah awal, anda harus mencari tahu mengapa anda kehilangan kedamaian?

Pada saat engkau melepaskan ego (ke-aku-an) dan keinginan, maka di saat itu engkau akan memperoleh kedamaian

Anda mempunyai dua alasan atas tidak adanya kedamaian di dalam diri anda: alasan pertama adalah oleh karena ego atau identifikasi pribadi, yaitu ke-aku-an. Bahwa aku adalah anu dan anu. Dan yang kedua adalah keinginan (desires). Nah, ke-aku-an dan keinginan merupakan dua faktor penyebab tidak adanya kedamaian. Pada saat ke-aku-an dan keinginan lenyap, maka itu bukan berarti bahwa anda akan mendapatkan kedamaian, melainkan anda adalah kedamaian. That's all. You are peace!



Inilah pengertian sebenarnya dari kata-kata Swami ketika Beliau mengucapkan, “Perwujudan kedamaian, perwujudan bliss, perwujudan divinity, perwujudan cinta-kasih” - bahwa anda adalah peace itu sendiri! Anda tidak akan memperoleh kedamaian. Jikalau itu adalah sesuatu yang datang dan pergi, maka itu berarti bahwa anda bukan hanya bisa mendapatkan kedamaian sekarang, namun juga bisa menjadi peace-less (kehilangan kedamaian) di momen berikutnya. Tetapi jikalau sekali saja anda tahu bahwa anda adalah kedamaian, maka tidak ada lagi yang dinamakan peace-less.



Bila demikian, tolonglah beritahu saya penyebab atas minimnya kedamaian di dalam diri saya. Beritahulah saya alasan ketidak-tenangan diri saya. Penyebabnya yang pertama adalah ke-aku-an atau identifikasi atas ego, dan yang kedua adalah keinginan. Apabila anda sanggup mengatasi kedua hal tersebut, maka anda berada dalam kondisi damai. Anda sendiri adalah kedamaian itu. Inilah yang dikatakan oleh Bhagawan.



Apa kewajiban saya?”

Lalu ada orang yang mengajukan pertanyaan lain: “Swami, apa kewajiban saya?”



Mengapa kau mengajukan pertanyaan ini anak-Ku? Masak engkau tidak tahu kewajibanmu?”



Sebagai seorang guru, saya wajib mengajarimu. Inilah kewajiban saya. Sebagai seorang dokter, anda harus merawat pasienmu, itulah kewajiban anda. Sebagai seorang pengusaha, ya anda harus mempertahankan kinerja perusahaan anda untuk selalu sukses & berhasil. Itulah kewajiban anda. Lalu, mengapa pula engkau menanyakannya?



Bukan, Swami. Saya ingin mengetahui jawabannya yang dilihat dari dimensi spiritual.



Berikut adalah jawaban yang diberikan oleh Swami.

Bersiap-siaplah untuk menerima segala hal sebagai rahmat dari Bhagawan

Pertama: Biarkanlah segala hal terjadi sebagaimana mestinya. Biarkanlah segalanya terjadi secara alamiah. Janganlah memiliki rencana-rencana tertentu.



Satu contoh sederhana: Aku ingin mendapatkan darshan pada waktu yang sesuai dengan kehendak Bhagawan. Anda tidak bisa mengatakan, “Swami, tolong dong berikan darshan pada pukul delapan. Aku ingin mendapatkan darshan-Mu. Masakah Engkau tidak mengerti keinginanku?” Well, jelaslah bahwa cara yang benar bukanlah seperti itu. Bersiap-siaplah untuk melihat-Nya kapanpun juga. Senantiasa stand-by untuk melihat Beliau. Tugasmu adalah pasrahkan diri. Take it easy. Lepaskanlah segalanya. Bersiap-siaplah untuk menerima. Jangan mengatakan, “Swami, besok adalah tenggat-waktunya! Saat itu adalah waktu yang paling cocok bagi-Mu untuk mencurahkan rahmat kepadaku.” (tertawa) Hal itu tidaklah mungkin bisa anda lakukan.



Oleh sebab itu, tugas atau kewajiban kita adalah untuk senantiasa siap. Anda mungkin bertanya, “Bukankah aku sudah bersiap-siap selama ini?” Well, kesiapan anda itu adalah karena tekanan, paksaan atau oleh karena anda memang tidak mempunyai pilihan lain. Namun sebenarnya di situ tidak ada kesiapan apapun juga! Kesiapan yang dipaksakan bukanlah suatu jenis kewajiban atau tugas yang suci.

Kalau sekarang, apa yang menjadi kewajiban kita? Take it easy sembari berkata ”Sebagaimana yang Engkau kehendaki, Swami, maka demikianlah rahmat dari-Mu.” Itu saja. “Saya sudah bersiap-siap, saya tidak mempunyai preferensi. Jikalau Engkau memilih untuk melihatku, maka yes, I am fine! Jikalau Engkau memutuskan akan lebih baik jikalau tidak melihatku, maka fine juga bagi saya. Jikalau Engkau memilih untuk menghindari-ku, maka yes, saya tahu bahwa itu adalah demi untuk kebaikan-ku.” Nah, inilah tugas & kewajiban kita.



Janganlah kita mendorong-dorong orang lain; janganlah meminta orang yang duduk di depan untuk pindah ke belakang. Shhh! Shhh! Itu semua adalah tugas & kewajiban di level ordinary (biasa). Duty dari level yang paling tinggi – yang dilihat dari perspektif spiritual – adalah kesediaan untuk menerima apapun juga yang dilakukan dan yang diberikan oleh Tuhan secara penuh keceriaan. Melakukan sesuatu secara senang hati adalah kewajiban moral kita. Tetapi sikap menerima secara tanpa syarat adalah kewajiban utama kita (dari sudut pandang spiritualitas).

Kembangkanlah Self-Awareness

Dan tugas yang kedua adalah – hanya ada dua jenis tugas ... Swami tidak memberikan tugas yang terlalu banyak kepada kita, sebab Beliau tahu bahwa kita tidak akan melakukannya sama sekali! (tertawa) Yes, tugas berikutnya yang diberikan oleh Beliau kepada kita adalah untuk mengembangkan Self-awareness, kesadaran atas Diri (Self). Siapakah aku? Apa saja sifat-sifat alami-ku? Kemanakah aku akan pergi? Ke arah mana? Siapakah aku sebenarnya? Menyadari diri kita yang sejati adalah tugas yang kedua.



Dalam melakukan hal tersebut, kita harus memiliki sikap tidak mengeluh. Apa yang saya maksudkan? Misalkan seandainya saya diminta untuk membagikan air, maka saya tidak boleh menjawab, “Air? Kedatangan saya ke sini bukanlah hanya sekedar untuk membagikan air! Aku ke sini untuk membagikan cek, paham ngakk? Bukan air!” Atau misalkan saya diminta untuk duduk di satu tempat tertentu dan saya seharusnya tidak berkata, “Inikah tempat duduk untuk saya? Tidak tahukah kamu bahwa seharusnya saya duduk di situ, persis di dekat pintu?”



Kita suka mengeluh tentang tempat duduk, tentang meeting kita, tentang individu tertentu. Mengembangkan sikap tidak mengeluh merupakan tugas kita. Jikalau kita mempunyai sikap seperti itu, maka itu juga bukan berarti bahwa anda akan segera mencapai kedamaian. Sebab sebenarnya anda adalah kedamaian itu sendiri. You are the peace. Aku tidak mengeluh. Yes. Setiap orang dari kita haruslah bisa berkata, “Ini adalah rahmat Tuhan.” Ketika Tuhan merancang, maka kita tidak tahu apa saja yang akan dilakukan-Nya terhadap kita.

Situasi diciptkan oleh Swami

Suatu ketika, dilangsungkan peresmian Srinivasa Guest House di dekat Ganesh – sebagian besar dari anda tentunya sudah melihatnya sebelumnya, yaitu tempat dimana para tamu V-VIP tinggal – satu bangunan yang besar. Nah, saat itu sedang berlangsung acara peresmiannya.



Swami masuk ke dalam gedung itu. Saya sebenarnya juga kepingin masuk dan melihat-lihat. Namun saya tidak mempunyai undangan. Saya tidak diminta untuk masuk ke dalam. Jikalau anda memang tidak diminta masuk, maka akan terdapat banyak orang yang akan mendorong anda keluar. Di sini kita mempunyai resimen atau pasukan spiritual yang kuat, yaitu para seva dal! (tertawa) Out! Mereka akan mendorong anda keluar! (tertawa) Jadi, saya mengetahui dimana posisi saya untuk berdiri. Kecuali bila Baba memang meminta saya untuk masuk, maka terdapat banyak orang yang akan meminta saya keluar dari situ! Saya tahu persis resikonya. Namun saya juga merasa menyesal karena tidak bisa hadir di situ.



Lalu tiba-tiba seseorang datang dan berkata, “Tolong beritahu Swami bahwa kita memerlukan baju tambahan untuk dibagikan.” Saya-pun beranjak masuk ke dalam, sebab sekarang saya mempunyai alasan untuk ikut masuk. Saya ke dalam dan berkata, “Swami, kita perlu baju-baju tambahan....”



Diamlah! Tak ada baju tambahan; semuanya sudah cukup. Aku memang sengaja membuatmu masuk ke sini sebab saya tahu kamu kepingin masuk.” (tertawa dan tepuk-tangan)



Jadi, suatu situasi diciptakan oleh-Nya – seseorang yang datang menghampiriku, mengajukan permintaan dan cukup adanya alasan bagiku untuk menjadi penerus pesan. Semuanya ini diseleksi oleh-Nya.

Hal yang sama juga terjadi sebaliknya. Ada orang yang berkata, “Swami meminta kehadiran anda di dalam ruangan interview.” Banyak siswa yang memberitahukan, “Swami memanggil anda, Pak.” Saya tidak merasa yakin, namun begitu banyak siswa yang memberitahukannya, jadi apa yang harus dilakukan? Saya-pun masuk ke dalam.



Swami melihat saya. Beliau tidak bertanya, “Mengapa kau ada di sini?” Terima-kasih Tuhan, terima-kasih Baba! (Anil Kumar tertawa)



Ketika Beliau mulai berbincang-bincang dengan semua orang, Beliau menatapku dan berkata, “Coba keluar dan panggilah seseorang yang bernama Radhakrishna. Panggillah dia.”



Saya bertanya, “Dimanakah dia Swami?”



Dia ada di luar sana. Coba panggil dia.”



Saya-pun keluar dan langsung ke tempat parkir mobil dan bertanya kepada pengemudinya, “Dimana si Radhakrishna?”



Lalu dia meletakkan kursi di sana untuk saya, sembari meminta saya untuk duduk dan memberikan segelas air. (tertawa). “Ambillah ini pak, dan duduklah. Radhakrishna sudah ada di dalam. (tertawa) Swami tidak menghendaki kehadiran anda di situ, oleh sebab itulah, Beliau meminta anda untuk memanggil orang yang sebenarnya sudah ada di dalam. (tertawa) Kehadiran anda tidak diharapkan di situ.”



Jadi, Beliau yang akan mencari jalan keluarnya. Semuanya ini adalah Divine Technology... D.Tech. Kalau kita hanya mengenal adanya B.Tech dan M.Tech, maka Bhagawan sudah menggunakan D.Tech... Divine Technology. (tertawa) Beliau serba mengetahui. Oleh sebab itu, Ia akan menciptakan suatu situasi, dan Beliau akan mencari jalan untuk memasukkan anda atau mengeluarkan anda pula. Jadi, apa yang harus ku-lakukan? Senantiasa bersiap-siaplah. I am ready. Tanpa mengeluh, di sinilah saya berada.

Kehadiran diabaikan, ketidak-hadiran dicatat

Beberapa waktu yang lampau, ada seorang menteri. Swami mengumumkan bahwa Ia akan menyumbangkan 150 crores untuk water project. Orang ini sudah meninggal. Dia menjadi penjabat pemerintahan di kabinet yang lampau untuk negara bagian ini. Nah, pria itu datang ke sini dan diikuti oleh ratusan orang pendamping.



Saya hanya menonton saja dan bertanya kepada orang-orang tersebut, “Mengap menteri datang ke sini? Swami sudah siap untuk memberikan uang, lalu mengapa pula sang menteri harus datang ke sini?



Mereka berkata, “Pak, menteri ini datang untuk menerima uang itu dari Swami, sebanyak 150 crores.”



Very good. Mari kita lihat seberapa besar bundelan uang itu! Jadi untuk itulah si menteri datang dengan diikuti oleh ratusan orang.



Namanya adalah Mr. Paritala Ravivi, seorang pejabat Telugu Desam di waktu itu. Dia baru datang ketika Swami keluar dari ruangan interview. Saya bertanya kepada diri sendiri, “Apakah Baba akan menerimanya?” Beliau berjalan berkeliling dan kemudian masuk ke dalam Mandir. Pejabat itu meminta duduk di veranda.

Mr. Paritala Ravi



Lalu Swami menginspeksi setiap siswa yang duduk di Sai Kulwant Hall, sebanyak dua ribu orang hadir di sana. Setelah pembagian baju usai, mulailah session padanamaskar bagi kedua-ribu orang itu, mulai dari jam 3 hingga 5.30. (tertawa). Kemudian bhajan juga dimulai, untuk itu, Swami berjalan memasuki bhajan hall dan kemudian mengambil arathi.



Hari Om Tat Sat! Semuanya sudah selesai! (tertawa). Orang itu harus pergi. Hanya Swami yang tahu segalanya. Beliau tahu cara untuk membubarkan orang; dan Beliau juga tahu bagaimana cara untuk mengumpulkan atau menarik kedatangan orang. Jadi, saya mungkin dibubarkan pagi harinya, dan saya juga mungkin dipanggil sore hari atau keesokan harinya. Hal-hal seperti ini sering kita alami setiap saat.



Jadi, selama anda masih ada di sini, Beliau tidak akan bertanya tentang keberadaan anda. Di hari anda pulang kembali ke tempat asal anda, maka Beliau akan bertanya, “Apa yang terjadi dengan orang itu? Dimanakah dia?” (tertawa) Kehadiran anda sama sekali tidak digubris, namun ketidak-hadiran anda justru tercatat. Sungguh amat mengecewakan, D.Tech Beliau. Jadi, apa yang harus kulakukan? “Oh Tuhan, ketika saya ada di sini, Engkau tidak mau melihatku; tapi di saat saya pergi, Engkau malah bertanya, 'Apa yang terjadi dengan orang itu?' Apa yang harus kulakukan Swami?”



Tugas kita adalah memelihara sikap yang tidak mengeluh (uncomplaining attitude). Bersiaplah untuk menerima segalanya sebagai rahmat dari-Nya. Inilah tugas suci kita. Dan juga tugas suci lainnya yang harus kita emban adalah mengembangkan kesadaran atas Self (Atma): inilah kesiapan, sikap hidup dalam momen saat ini serta sikap tidak mengeluh. Demikianlah yang dikatakan oleh Bhagawan.



Perjalanan dari Idol ke Ideal

Seseorang pernah bertanya, “Swami, saya mempunyai satu arca Rama yang cantik dan saya memujanya setiap hari. Kira-kira seberapa lama saya harus menyembahyanginya?” Lalu seorang lagi menambahkan, “No, no, no! Patung Krishna-ku jauh lebih cantik! Seberapa lamakah saya harus memujanya?”



Baba berkata, “Selama engkau masih memiliki perasaan badaniah ini, bahwa 'aku adalah badan jasmani', maka lanjutkanlah pujamu. Pada saat engkau sudah berkembang melewati batasan itu, yaitu di momen anda menyadari bahwa dirimu bukanlah badan fisik, maka engkau tidak membutuhkan lagi pemujaan rupang atau arca sama sekali.”



Swami mengatakan bahwa kita harus berjalan dari idol ke ideal. Namun kenyataannya adalah bahwa kita justru menjadi idle (diam) di tengah-tengahnya! (tertawa), nah inilah tragedinya. Seharusnya kita tidak menjadi idle. Lakukanlah pemujaan terhadap idol dan capailah ideal(isme). Inilah yang dikatakan oleh Bhagawan.

Baba mengatakan bahwa kesulitan adalah sebagai pelajaran

Banyak yang bertanya, “Mengapa kehidupan ini penuh dengan kesulitan? Berapa lama lagi kesulitan itu akan berlanjut?” Ada beberapa orang yang kita temui dan berkata, “Mr. Anil Kumar, satu kesulitan datang secara silih berganti! Apa yang harus ku-lakukan? Anda mendapatkan kesulitan satu per satu, tetapi saya sendiri mengalami kesulitan dalam jumlah banyak secara silih berganti pula. (tertawa) Jadi, saya rasa lebih baik kalau anda menangis untuk saya, dan saya akan menangis untuk anda. Marilah kita menangis bersama-sama secara chorus.” Semacam bhajan tangisan. (tertawa) Janganlah begitu. Jadi, pertanyaan yang mereka ajukan adalah, “Seberapa lama lagi? Mengapakah terjadi kesulitan-kesulitan itu?”



Kesulitan-kesulitan adalah seperti medan pelatihan atau pelajaran yang sulit. “Swami, apakah tidak ada pelajaran yang lebih gampang? Sepertinya metode pelajaran seperti ini cukup menyakitkan.”



Bhagawan memberitahukan bahwa ketika anda belajar naik sepeda, tentunya anda pernah jatuh beberapa kali. Tak ada seorangpun yang belajar naik sepeda tanpa terjatuh sekalipun. Anda mungkin berkata demikian, tetapi ibu anda lebih mengetahui. Nenek anda tentunya masih ingat, karena beliaulah yang memberikan perban. Mungkin sang ibu tidak mempunyai waktu karena harus bekerja. Jadi, anda perlu jatuh untuk belajar seni mengendarai sepeda.



Demikianlah, anda perlu melalui banyak benturan, goresan, ups and downs, tangisan dan senyuman hingga anda mempelajari sesuatu. Di kala anda sudah belajar, maka anda tidak akan khawatir lagi. “Oh, di situ ada batu besar! (misalkan saya sedang bersepeda). Oh! Sebuah batu – no, no, no!” Anda sudah belajar untuk mengambil jalan lain guna menghindarinya. (tertawa)



Saya ingat ketika berusia delapan tahun. Saya sedang mengendarai sepeda milik orang lain. Saya tidak tahu bagaimana caranya membunyikan belnya. Rupanya ada seorang wanita yang sedang berjalan ke arah saya, “Ah! Arre! Arre! Att! Att! Att!” Saya hanya bisa berteriak kepadanya, agar dia menghindar. (tertawa) Tapi setelah saya tahu cara menekan bel sepeda dan mempertahankan keseimbangan, maka selanjutnya tidak ada problem seperti itu lagi.



Dengan analogi yang sama, di saat kita belajar dari pengalaman kita, maka kesulitan tidak lagi merupakan kesulitan. Ia sudah tidak menjadi penghalang ataupun hambatan. Semuanya menjadi gampang... bagaikan awan yang berlalu. Anda tidak perlu lagi terlalu serius dengannya. Inilah yang dikatakan oleh Bhagawan tentang hal ini.



Mengapa terjadi kesulitan-kesulitan? Jawbannya sangat sederhana. Misalkan saya sedang duduk di taman suatu sore. Kemarin ada seorang yang datang dan berkata, “Saya menemukan bahwa taman itu cukup nyaman. Sangat empuk bagaikan sofa.” Jadi, kamipun duduk di situ, berbincang-bincang dan berkelakar dengan gembira.



Salah seorang mahasiswa saya datang dan berkata, “Pak, dua hari yang lalu kami melihat dua ekor ular di sekitar sini.” (tertawa)



Dua ekor ular!?” saya bertanya, “Saya sedang dikerumuni oleh ular-ular dalam wujud manusia! (tertawa) Apakah yang anda maksudkan ular benaran? Okay!” Jadi berapa lama lagi saya harus duduk di situ? Apakah sampai saya digigit ular atau apa? Saya langsung menjawab, “Terima-kasih karena telah memperingatkanku! Terima-kasih banyak.” Langsung saya segera meninggalkan tempat itu.

Kesulitan akan tetap berlanjut hingga kita memalingkan batin kita kepada Tuhan

Penderitaan masih tetap akan berkelanjutan sebelum anda mengarahkan batinmu kepada Self atau ia (penderitaan) masih akan terjadi hingga anda berhasil membelokkan batinmu kepada kesadaran-Self, hingga anda merasakan bliss dari Self, serta hingga anda berhasil menjadi bagian dari Self.



Kita akan terus mengalami kesulitan hingga kita berpaling kepada Tuhan. Aku sendirian; aku tidak tahu apa yang harus ku-lakukan. Aku merasa khawatir dan ketakutan hingga seseorang datang dan memberi tahu saya, “Tak usah khawatir, aku yang akan menanganinya.”



Tahun lalu atau tahun sebelumnya, saya sedang berada di airport dengan koper yang berat. Saya masuk ke dalam suatu ruangan yang saya kira adalah lift. Tapi ternyata tidak ada switch di situ. Tak seorangpun yang berbahasa Inggris. Hari Om! Apa yang harus kulakukan? Saya mengedor-ngedor pintu, tapi rupanya tak ada orang di sekitar dan ruangan itu kedap suara pula. Koper yang berat, pintu yang tertutup dan saya tidak tahu cara membukanya. Tak ada seorangpun yang masuk ke ruangan itu! (tertawa) Apa yang harus kulakukan?

Kshama Moorthi Sai Baba,

Prema Moorthi Sathya Sai

(Anil Kumar menyanyikan bhajan)



Itulah doa saya. Kita akan menjadi semakin religius ketika sedang mengalami ketegangan (tertawa) dan bukannya ketika sedang berada di dalam bhajan hall. (tertawa) Anda menjadi semakin religius dan spiritual di kala semua pintu tertutup dan tak ada seorangpun di sekitar anda – juga tidak ada tombol sama sekali! Hari Om! Jam berapa flight berikutnya? Tak ada yang bisa berbahasa Inggris. Apa yang harus kulakukan?



Berkat Rahmat Baba, seseorang membuka pintu. Pada saat ia masuk, saya-pun segera melesat keluar. (tertawa). Demikianlah, kesulitan ada di dalam situ. Untuk berapa lamakah? Hingga seseorang masuk, membuka pintu dan saya-pun keluar. Kesulitan-kesulitan tetap terjadi hingga saya mengarahkan diri saya serta menuntun batin saya kepada Tuhan.



Saya mempunyai beberapa orang teman yang segera akan pulang, jadi saya rasa cukup beralasan untuk menyediakan sedikit waktu untuk tanya-jawab. Kelompok UK sedang berada bersama-sama kita. Saya sangat happy. Marilah kita menyambut mereka dengan tepuk-tangan.



Di tengah-tengah kita juga hadir Professor Dr. Trivedi, yang sedang bekerja keras di bidang nilai-nilai kemanusiaan. Beliau telah mengadakan riset, terutama dalam bidang nilai kemanusiaan yang diaplikasikan dalam lingkungan kaum profesional. Saya berdoa kepada Bhagawan agar mencurahkan blessings-Nya kepada beliau dan timnya. Semua pengetahuan tentang nilai kemanusiaan telah dipaparkan di websitenyavii, guna memberikan manfaat kepada bhakta Sai di seluruh dunia.



Tanya Jawab

Sekarang kita mempunyai waktu untuk satu atau dua pertanyaan. Siapa yang akan bertanya?



Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk datangnya zaman keemasan?

Oh! That's great! Zaman itu sudah datang. (tepuk-tangan) Pertanyaan ini serupa dengan pertanyaan begini, “Berapa lama lagi agar pesawat itu datang?”, padahal pesawatnya sudah mendarat di sini. Mengapa saya berkata begitu?



Zaman keemasan bukanlah sesuatu keadaan atau masa yang bersifat material, juga tidak diartikan sebagai keadaan yang fisikal; non-sekuler melainkan spiritual. Ia merupakan keadaan psikologis dan Divine. Golden Age adalah masa dimana seseorang berkenalan dengan nilai-nilai kemanusiaan.



Zaman keemasan adalah zaman dimana terjalinnya kerja-sama dan unity. Ia merupakan zaman saat terjadi sintesis semua agama, dan zaman itu sedang terjadi sekarang di Lotus Feet Bhagawan Sri Sathya Sai Baba. (tertawa). Golden Age adalah zaman ketika semua agama dan aliran kepercayaan didorong perkembangannya. Zaman Golden Age adalah zaman ketika semua jenis upaya dan usaha spiritual mendapatkan dukungan yang sama rata.



Baik karma yoga (latihan spiritual melalui tindakan), bhakti yoga (melalui jalan bhakti) dan jnana yoga (melalui jalan kebijaksanaan) – semua jalan spiritual ini mendapatkan dukungan yang sama. Baba sedang menjalankan Golden Age. Di zaman ini, equalitas (kesamaan) selalu dijaga dengan baik. Kita adalah sama di hadapan Bhagawan. Di hadapan Beliau, kita menikmati kesamaan derajat, ketenangan batin dan kepentingan yang sama.



Terima-kasih banyak atas pertanyaan ini: Bahwa Golden Age sebetulnya sudah terbit. Pertanyaan berikutnya please.



Berapa lama lagikah Swami baru bisa berjalan?

Rupanya anda bermaksud untuk mengatakan bahwa Beliau tidak berjalan. Jikalau memang Baba tidak berjalan, lalu bagaimana mungkin teman-teman saya di Los Angeles berkata, “Aku melihat Swami berjalan di dalam ruanganku”? Jawaban apa yang harus ku-berikan ketika saya menerima sepucuk surat dari Kobe, Jepang yang tertulis, “Kami melihat Swami berjalan di center kami, di tengah-tengah bhajan hall”? Coba, apa yang harus ku-katakan?



Jadi, barangkali memang Beliau tidak berjalan di sini, namun yang pasti Ia berjalan dimana-mana! (tertawa) Baba is walking everywhere else! (tepuk-tangan). Jadi, pertanyaan tadi bisa dirubah!



Berapa lama lagi Beliau baru mau berjalan di sini?

Lalu Swami mungkin akan berkata, supaya anda merasa lebih enak, “Aku berjalan di sana; namun Aku tidak berjalan di sini. Dan ada hal lainnya pula: engkau mungkin memerlukan kaki untuk berjalan, namun Aku tidak membutuhkannya, sebab Aku bisa berjalan tanpa-kaki, Aku bisa melihat tanpa bantuan mata, Aku bisa mendengar tanpa bantuan telinga. Aku tidak terikat oleh panca-indera. Oleh sebab itu, Aku bisa pergi, Aku bisa jalan dan Aku bisa dengar.”

Sarvatah Paanipadam,

Sarvatah Siromukah.



Terima-kasih banyak sir. (tepuk-tangan) Terima-kasih oleh karena telah mengemukakan point yang sangat bagus dan penting. Terima-kasih dari lubuk hatiku.



Anda dari mana? Kroasia? Ah! Mind yang suka menyelidiki, a research mind....



Oleh karena anda diundang oleh Baba ke dalam gedung itu pada saat peresmian, apakah anda bisa menceritakan apa yang terjadi di sana? (tertawa)

Kroasia.... secara ilmu pengetahuan dan teknologi, sangatlah investigatif. Yang terjadi hari itu adalah Beliau membawa saya berkeliling ke segenap penjuru gedung itu dan memperlihatkan ruangan yang ada satu per satu berikut dengan dekorasinya. Saya berdecak kagum dan excited. Saya mengemukakan satu pernyataan di sana kepada Swami.



Presiden India tinggal di dalam gedung yang dinamakan Rashtrapathi Bhavanviii. Gedung itu mirip-mirip Gedung Putihix di Amerika Serikat; atau sejenis 10 Downing Streetx di London. Nah, di India kita mempunyai Rashtrapathi Bhavan, tempat kediaman Presiden.

Rashtrapathi Bhavan

Gedung Putih

Downing Street



Saya berkata, “Swami, gedung ini adalah 'Viswapathi Bhavan', gedung milik Tuhan sendiri!” (tepuk tangan). Terima-kasih, sebab banyak orang memperoleh manfaat dari rumah Tuhan ini.



Bagaimanakah caranya mematikan sang ego (ke-aku-an) yang anda bicarakan ini?

Anda berasal dari mana...? Oh dari Mauritius! Pernah ada seorang Perdana Menteri dari sana yang memberikan ceramah pada saat convocation Sathya Sai University tiga tahun yang lalu, namanya Mr. Anirudh Jaganathxi, apakah betul? Jadi ingatan saya masih cukup ok bukan? Good. Mauritius! Yes.

Anirudh Jaganath bersama George W Bush

Tumbuh ke tahapan non-dualisme adalah satu-satunya jalan

Bagaimanakah caranya mengatasi ke-aku-an atau ego? Begitulah pertanyaan anda. Point utamanya adalah bahwa sekali kita mengetahui betapa sakitnya ego atau ke-aku-an, maka kita akan menjadi sadar betapa cantiknya (kehidupan ini) bila terbebaskan dari sang ego tersebut.

Satu contoh sederhana: Sang “aku” ini adalah ego atau mind (batin). Ketika orang lain memuji saya, maka saya merasa terangkat, dan ketika orang lain mengkritik, maka saya langsung down. Di satu saat saya merasa bahagia, tapi di saat lain, saya merasa sedih. Dualisme seperti ini disebabkan oleh karena adanya unsur ke-aku-an tersebut.



Saya tidak menghiraukannya. Saya mengerti bahwa Aku yang sejati (Atma) yang ada di dalam diri saya adalah sama dengan Atma yang ada di dalam diri anda. Jadi, hanya ada satu “I” atau “Self” yang sejati. “Aku” ini hanya ada satu di dalam diri setiap orang. Apabila kita berpikir dengan cara seperti ini, maka secara perlahan-lahan ego kita akan menghilang. Tipikal ego yang reaktif dan over sensitif ini akan sirna. Dengan demikian, maka anda akan berkembang dan maju ke tahapan non-dualisme.



Satu contoh sederhana lain: Ketika Lord Buddha sedang berjalan, banyak orang yang berkumpul dan mulai mentertawakanNya. Lord Buddha adalah sosok pria yang tampan, tinggi dan kekar, dengan kepala yang digunduli, memakai jubah bhikkhu dan berjalan sembari bertelanjang-kaki di dalam hutan. PenampakanNya seperti orang yang kurang-waras di mata anak-anak muda saat itu. Oleh sebab itu, mereka mengolok-olok-Nya. Namun Sang Buddha tetap melanjutkan perjalananNya sembari tersenyum, Beliau sama sekali tidak bereaksi.



Setelah selang beberapa saat Ia berkata, “Teman-temanku, sebaiknya hentikanlah olok-olokmu itu.” Mengapa? “Sebentar lagi para pengikut-Ku akan datang untuk menjemputKu. Ketika mereka melihat anda berlaku seperti ini, ada kemungkinan mereka akan berbuat kasar terhadap anda. Sehingga anda mungkin terluka dan menderita. Oleh sebab itu, please stop. Akan tetapi, Aku sendiri malah menikmati cercaanmu. Ya, Aku menikmati kesenanganmu. Rasa senangmu memberikan kegembiraan bagi-Ku. Yes. Para pengikut-Ku akan merasa senang dengan memberikan pujaan kepada-Ku. Biarkanlah Aku juga menikmati kesenangan mereka. Keceriaanmu adalah keceriaan-Ku juga.” Demikian kata Lord Buddha.



Baba mengatakan bahwa mereka yang memuja-Nya akan mampir ke puncak sebuah gunung, sedangkan mereka yang mengkritisi-Nya juga akan mampir ke puncak gunung yang bersebelahan, dan di tengah-tengah lembah antara kedua pegunungan itu, Beliau memberi blessing kepada kedua-duanya. Nah, inilah kiat bagaimana seseorang mengatasi egonya. Apakah cukup jelas? Terima-kasih banyak.

Cinta-kasih yang intensif kepada Tuhan adalah merupakan Bhakthi

Kepada siapakah bhakti dan jnana dihaturkan?



Teman-teman sekalian, bhakthi adalah cinta-kasih. Itu saja. Bhakthi bukanlah untuk dipamerkan. Bhakthi juga bukanlah ritual... atau setidaknya bukan hanya sekedar ritual, sebab bagi mereka yang hanya percaya dalam hal-hal ritualistik, maka dikhawatirkan minggu depan dia mungkin tidak akan menghadiri satsang ini lagi! (tertawa). Jadi bhakthi tidaklah sekedar diartikan sebagai ritual; bhakthi tidak hanya sekedar pergi ke kuil, mesjid, gereja atau gurudwara. No! Upacara ibadah dan berpuasa bukanlah satu-satunya pengertian bhakthi. Yang benar adalah bahwa bhakthi merupakan cinta-kasih, yaitu cinta-kasih yang intensif kepada Tuhan – nah itulah yang disebut sebagai bhakthi!

Hanya Tuhan yang eksis di dalam Jnana, anda tidak eksis sama sekali

Jnana adalah sesuatu yang secara otomatis mengantarkan anda ke level berikutnya. Apabila saya mengatakan, “I love” maka itu berarti bahwa saya di sini dan anda di sana, sehingga menjadi “I love you.” Di sini ada dua hal. Jikalau saya mengatakan, “I love”, maka langsung anda akan bertanya, “Siapa yang anda cintai?” Anda tidak bisa sekedar menjawab, “I love, I love.” (Oh! Oh! Rupanya anda tidak mengerti bahasa Inggris ya!? Setiap kalimat harus mempunyai subyek, predikat dan obyek, jadi sebaiknya anda kembali lagi ke Sekolah Dasar dan belajar tata-bahasa lagi!)



Jadi, dengan kata “I love”, maka pertanyaan berikutnya yang muncul secara alami adalah siapakah yang anda cintai. Di dalam bhakthi atau devotion, anda dan Tuhan ada di sana. Anda mencintai Tuhan. Akan tetapi, dalam hal jnana, anda tidak ada di sana, anda sama sekali tidak eksis. Hanya ada Tuhan. That's all. Apakah cukup jelas Pak? Terima-kasih banyak.



Anda mengatakan bahwa kita harus bersiap-siap, bahwa kesiapan diri harus ada di situ. Apakah itu berarti penyerahan atau pasrah diri?

Betul sekali! Surrender (pasrah-diri) adalah kesiapan kita untuk menerima apapun juga secara tanpa syarat. Kesiapanku untuk menerima segala sesuatu yang diberikan oleh Tuhan kepada saya adalah merupakan surrender. Inilah yang dapat saya jelaskan dalam kaitannya dengan readiness (kesiapan). Apakah cukup jelas? Pertanyaan anda tadi mengandung dua bagian.



Bagian kedua adalah: oleh karena anda sangat dekat kepada Swami, apakah anda melihat-Nya setiap hari?

Untuk bagian pertama, “Oleh karena anda dekat kepada Swami” - ungkapan ini sangat diragukan, sebab saya yakin bahwa saya sudah memberitahukan jutaan kali atau bahkan miliaran kali... semuanya dekat kepada Swami. All are close to Swami. (tepuk-tangan) Sebab apabila anda mengatakan bahwa Swami adalah God, maka Beliau tidak bisa hanya dekat kepada Anil Kumar dan jauh dari orang lain. No! Jikalau anda mengatakan bahwa Beliau adalah God, maka Beliau seharusnya dekat dengan setiap orang. Apabila kita mengatakan bahwa hanya segelintir orang saja yang dekat kepada-Nya, maka itu berarti kita meragukan Divinity-Nya. Beliau menjadi parsial. No! Tuhan adalah totalitas dan bukan parsialitas. Jadi seharusnyalah kita mengatakan demikian: Semua mahluk hidup dekat kepada Swami.



Semua mahluk hidup dekat kepada Swami, sehingga kita melihat-Nya setiap hari. Kita semuanya dekat kepada Beliau. Inilah jawaban saya, percayalah. Anda adalah sedekat Swami seperti halnya saya sendiri. Beliau mencintai anda sebanyak Ia mencintai semua orang, sebab itulah Divinity. Apakah cukup jelas Pak? Terima-kasih banyak.



Apa point utama yang hendak disampaikan oleh Swami dalam wacana hari kemerdekaan?

Waktu sudah habis, dan oleh karena kita sangat tergantung pada waktu, biarkanlah saya menutup pertanyaan yang berkaitan dengan hari kemerdekaan.



Pesan yang hendak disampaikan oleh Swami dalam wacana hari kemerdekaan-Nya adalah bahwa terdapat banyak pejuang yang telah dilupakan. Para patriot sejati yang telah mengorbankan nyawa, waktu dan kenyamanannya, telah dilupakan oleh kebanyakan rakyat. Kita tidak berterima-kasih kepada mereka. Kita bahkan tidak ingat lagi nama-namanya.



Point kedua: Beberapa dari patriot sejati itu malah ada yang diusir dari negeri ini, sebab patriot-patriot lain yang ada di negeri ini menganggap mereka sebagai ancaman terhadap posisi dan pengaruhnya. Point ketiga adalah bahwa patriot-patriot tersebut juga ada yang spiritualis, misalnya: Netaji Subhash Chandra Bosexii. Nah, inilah point-point yang hendak anda ketahui. Am I clear?

Netaji Subhash Chandra Bose





OM…OM…OM…



Asato Maa Sad Gamaya

Tamaso Maa Jyotir Gamaya

Mrtyormaa Amrtam Gamaya



Om Loka Samastha Sukhino Bhavantu

Loka Samastha Sukhino Bhavantu

Loka Samastha Sukhino Bhavantu



Om Shanti Shanti Shanti





Jai Bolo Bhagavan Sri Sathya Sai Babaji Ki Jai!

Jai Bolo Bhagavan Sri Sathya Sai Babaji Ki Jai!

Jai Bolo Bhagavan Sri Sathya Sai Babaji Ki Jai!

iGua Ajanta terletak di negara bagian Maharashtra, India (tepatnya di depan desa Ajintha di distrik Aurangabad) – merupakan monumen gua sarat dengan pahatan-pahatan dan lukisan-lukisan, berdiri sejak abad kedua. Gua ini dianggap sebagai buah-karya kesenian Buddhis. Situs ini merupakan salah-satu situs yang dipelihara oleh UNESCO.


iiGua Ellora (nama aslinya Verul) adalah salah-satu situs arkeologis, terletak sejauh 30 km dari kota Aurangabad, negara bagian Maharashtra. Situs ini dibangun oleh Dinasti Rashtrakuta, terkenal dengan gua-gua monumental dan merupakan salah satu situs dunia yang terpelihara. Di sana terdapat kuil Buddhist, Hindu dan Jain yang dibuat di tebing Charanandri, sekitar abad ke 5 hingga abad ke 10. Gua nomor 1 s/d 12 adalah merupakan situs Buddhist, gua 13 s/d 29 untuk Hindu dan gua 30 s/d 34 untuk Jain. Lokasinya yang berdekatan mencerminkan keharmonisan antar-agama yang sudah ada sepanjang sejarah India.


iiiGua Battu, terletak di Kuala Lumpur, merupakan salah-satu tempat suci umat Hindu di Malaysia, tempat dimana sering dilakukannya ritual-ritual keagamaan.

ivDi zaman kuno India, Janaka ((Sanskrit: जनक, janaka) or Raja Janaka (राजा जनक, rājā janaka) adalah raja dari kerajaan Mithila. Ia dilahirkan di daerah yang sekarang dinamakan Janakpur, Nepal; nama raja ini disinggung dalam Ramayana sebagai ayah Sita. Di samping itu, namanya juga terdapat di dalam Brihadaranyaka Upanishad, Mahabharata dan Purana. Raja ini mengadakan perlombaan untuk mengetahui siapa yang layak untuk dinikahkan dengan putirnya, yaitu siapa yang sanggup mengangkat dan memanah dengan busurnya Lord shiva. Akhirnya Lord Rama-lah satu-satunya yang sanggup mengangkat busur tersebut dan oleh sebab itu, ia-pun dinikahkan kepada Sita (yang juga bernama Janaki). Setelah menikah, keduanya tinggal di Ayodhya. Janaka bukan hanya sebagai raja yang gagah berani, tetapi beliau juga sangat mahir dalam sastra dan Veda. Ia adalah siswa utama Yajnavalkya, dimana uraiannya tentang Brahman kepada sang raja mengisi satu bab dari Brihadaranyaka Upanishad. Di dalam kitab Bhagavad Gita, Sri Krishna menjuluki Janaka sebagai contoh hidup personil yang menganut Karma Yoga.


vMithila (Sanskrit: मिथिला, mithilā) adalah salah-satu kerajaan yang pernah berkuasa di zaman kuno India. Kerajaan ini berdiri di bagian timur dataran Ganga, di zaman modern wilayah kerajaan ini menyebar hingga separuh lebih negara bagian Bihar dan sebagiannya lagi sampai ke Nepal. Mithila adalah ibu-kota kerajaan Videha (sesuai dengan cerita epic Ramayana). Kota Mithila sekarang dikenal sebagai kota Janakpur dari distrik Dhanusa, Nepal.


viParitala Ravindra adalah seorang tokoh politik di Rayalaseema, negara bagian Andhra Pradesh. Ia berhaluan komunis mengikuti jejak ayahnya dan kemudian ia terjun langsung dalam dunia politik dengan bergabung dalam partai Telugu Desam.

viiiRashtrapathi Bhavan (dalam Bahasa Sanskerta diartikan sebagai rumah atau istana kepresidenan) merupakan tempat kediaman resmi Presiden India, terletak di New Delhi. Hingga tahun 1950, bangunan ini dikenal sebagai “Viceroy's House” dan berfungsi sebagai kediamanan Gubenur Jenderal India.


ixGedung Putih adalah kediaman resmi dan kantor-utama Presiden Amerika Serikat. Bangunan ini dibangun dari Aquia sandstone yang diberi warna putih dengan gaya Georgian. Terletak di 1600 Pennsylvania Avenue NW di Washington, DC.


xDowning Street adalah nama salah satu jalan di London, Inggris yang selama dua-ratus tahun terakhir merupakan lokasi kediaman resmi dari dua menteri kabinet Inggris yang paling senior. Downing Street 10 adalah kediaman resmi merangkap kantor Perdana Menteri. Nama jalan ini diambil dari nama Sir George Downing (1632-1689), seorang perwira dan diplomat Inggris.


xiSir Anerood Juganauth, lahir tanggal 29 Maret 1930, adalah Presiden (2003 hingga sekarang) dan mantan Perdana Menteri, menteri pertahanan dan menteri dalam negeri negara Mauritius. Dia menjabat sebagai Perdana Menteri dari 1982 hingga 1995 dan dari 2000 hingga 2003.


xiiSubhas Chandra Bose, (23 Januari 1897 – 18 Agustus 1945 (prakiraan)), beliau dikenali dengan gelar Netaji (artinya Pemimpin yang terhormat), adalah salah seorang pemimpin yang sangat menonjol dan terkemuka dalam gerakan kemerdekaan India melawan penjajahan Inggris.