“Cukuplah Sudah”
August 12th, 2007
OM…OM…OM…
Sai Ram
With Pranams at the Lotus Feet of Bhagavan,
Dear Brothers and Sisters,
Saya mengucapkan selamat-datang kepada anda semuanya dalam kelas study-circle pagi ini. Topik kita pagi ini adalah 'No More' (dapat diartikan sebagai 'tidak lagi' atau 'cukuplah sudah' – Red). Perlu diperhatikan bahwa ejaannya adalah 'No More' – bukan 'Know More' (Ketahuilah lebih banyak lagi)!
Hentikanlah si Maniak Jabatan dan Uang ini
Manusia sangat tertarik untuk memiliki harta-benda, jabatan tinggi dan dikenali oleh semua orang atas keberhasilan dan pencapaiannya. Alhasil, ia tidak pernah merasa puas, walaupun sudah mencapai posisi atau jabatan tinggi; ia terus ingin merangkak naik dan naik lagi. Bagaikan permainan yang tiada berkesudahan.
Jabatan atau posisi, entah seberapa tinggipun, ia tidak akan pernah bisa memberikan kepuasan. Usaha kita untuk mengejar kebahagiaan melalui jabatan yang tinggi tidak akan membuahkan hasil dan hanya akan berakhir sia-sia. Pada suatu titik tertentu, kita akan merasa capek, bosan dan terbebani. Oleh sebab itu, no more positions!
Di saat kita terbebaskan dari posisi/jabatan, maka kita akan menemukan bliss. Position merupakan gangguan dan duty (kewajiban). Duty (kewajiban) bersifat tidak murni, sedangkan 'service' (pelayanan) adalah mulia. Oleh sebab itu, kewajiban yang saya laksanakan di saat sedang memegang jabatan adalah bagaikan kotoran, sedangkan pelayanan yang saya lakukan dengan tanpa memegang jabatan apapun, merupakan perbuatan yang akan membuahkan kegembiraan, blissful dan Divine. Dengan demikian, kita telah sampai kepada suatu kondisi dimana kita akan berkata, “Saya sudah capek dengan jabatan-jabatan; no more, thank-you.”
Jikalau kita bertanya kepada seseorang yang sudah pensiun, “Pak, apa yang anda lakukan sekarang? Bagaimana anda menghabiskan waktu anda? Apakah anda menerima tawaran jabatan dalam suatu pekerjaan atau adakah pertimbangan pribadi lainnya?”
Ia akan menjawab, “Saya sedang menghabiskan waktu saya, namun bukan dalam posisi apapun juga. Saya sudah capek dengan itu semua.”
Hal yang sama berlaku untuk masalah uang: Semakin kita mengakumulasi uang, maka akan tiba waktunya dimana kita akan dimintai pinjaman ataupun sumbangan dari setiap orang yang kita kenal. Bahkan anak-anak kita sendiri akan menunggu meninggalnya sang ayah agar mereka dapat mewariskan harta kekayaannya! Tambahan pula, dalam rangka untuk mengeruk uang yang lebih banyak, kita terpaksa melakukan hal-hal yang sering kita baca di koran-koran – yang mana sering kali merupakan tindakan yang ilegal, merusak ataupun perbuatan-perbuatan yang tidak benar lainnya (KKN).
Orang-orang mungkin berkata, “Uang bisa menciptakan banyak hal”, namun Baba mengatakan, “Uang justru akan membawa serta banyak hal-hal yang tidak benar.” Oleh sebab itu, no more money; cukuplah sudah. Kita harus memberhentikan sikap maniak yang mengejar-ngejar jabatan dan uang.
Tinggalkanlah Keinginan untuk mencari nama dan ketenaran
Kita juga perlu meninggalkan keinginan untuk mencari nama dan ketenaran. Suatu hari kelak, anda mungkin tidak memiliki privacy (waktu untuk diri sendiri); anda tidak bisa tidak menarik perhatian orang lain, atau tidak bisa pergi kemanapun juga. Anda telah menjadi sedemikian terkenal, sehingga orang-orang akan mengejar-ngejar anda. Mereka mengenali anda dan berkata, “How are you, how are you (apa-kabar)?” Namun sebenarnya mereka sama sekali tidak peduli dengan bagaimana kondisi anda – mereka hanya ingin berdekatan dengan anda, itu saja. Mereka ingin agar urusan-urusan mereka secepatnya dapat terselesaikan berkat keakraban dengan anda.
Akhirnya, anda akan berteriak, “Oh Tuhan, orang-orang tidak mau meninggalkanku sendiri; saya sudah capek dengan kerumunan massa di sekeliling saya. Oh Tuhan, tolonglah agar aku memiliki waktu untuk diriku sendiri guna melaksanakan meditasi serta menikmati keadaan bliss.” Dan anda akan berkata: no more familiarities, no more acquaintances or friendships (tiada lagi keakraban, kenalan atau sahabat).
Oleh sebab itu, sahabat sekalian, waktunya akan tiba dimana kita tidak lagi menginginkan lebih banyak lagi uang, jabatan, kenalan ataupun persahabatan, nama dan juga ketenaran.
Ekspresi adalah pengetahuan, Experience (pengalaman) adalah Divine
Demikian pula, kita perlu mengatakan 'no more' kepada hal-hal lainnya yang mungkin luput dari pertimbangan kita sebelumnya: Kita mengira bahwa spiritualitas tercapai dengan membaca buku-buku spiritual, mendengarkan atau memberikan ceramah. Padahal tidaklah demikian halnya. Saya bisa memberikan serangkaian banyak ceramah, namun itu bukan berarti bahwa saya sudah mengalami sendiri hal-hal yang saya utarakan tersebut.
Saya telah terjun di bidang public-speaking (berbicara di depan umum) sejak masih kanak-kanak; sejujurnya, saya seharusnya bisa mendapatkan nilai yang lebih bagus jikalau saja saya lebih banyak memberi perhatian atas studi-studi saya! (tertawa) Selama ujian akhir, saya sering menghadiri kompetisi public-speaking yang diadakan antar-college ataupun antar-universitas. Kegiatan public-speaking jauh lebih menarik buat saya dibandingkan lembaran pertanyaan dan jawaban! Itulah sebabnya mengapa beberapa kemajuan akamedik saya terpaksa harus dikorbankan!
Saya ingin berbagi dengan anda hal yang diutarakan oleh ayah saya sekitar dua-puluh lima tahun yang lalu. Setelah melihat jadwal public-speaking saya, beliau berkata, “Aku hendak menasehatimu tentang satu hal: Janganlah menjadi sendok dalam kehidupan ini.”
Saya merasa bingung dengan maksudnya. “Mengapa ayah ingin saya agar tidak menjadi sendok?”
Kemudian beliau berkata, “Apabila kamu adalah sebuah sendok, maka engkau memberikan sesendok madu kepada setiap orang agar dapat dicicipi. Semua orang merasakan manisnya madu, tapi si sendok itu sendiri tidak tahu bagaimana rasanya.” (tertawa)
Demikian pula, anda boleh bercerita panjang-lebar tentang berbagai topik dan pengalaman spiritual, namun seperti halnya sendok, anda tidak akan menikmati esensinya. Terlalu banyak berbicara dan mendengar, termasuk juga terlalu banyak membaca, semuanya itu bisa menjadi kebiasaan yang jelek atau kurang baik.
Point utama kesalahan kita adalah karena kita memiliki pandangan yang salah, kita menganggap bahwa dengan membicarakan tentang topik-topik spiritual, kita bisa menjadi lebih religius atau menciptakan image seolah-olah diri kita lebih religius dibandingkan orang lain. Padahal di dalam hati nurani, kita belumlah mempunyai pengalaman yang religius. Tolok-ukur religius tidaknya seseorang tergantung pada experience (pengalaman) dan bukannya expression (ekspresi/tutur-kata dan sejenisnya). Expression adalah pengetahuan, sedangkan experience adalah Divine. Oleh sebab itu, hendaknya kita berdoa kepada Swami agar membawa kita kepada tahapan dimana kita bisa lebih banyak mengalami (experience) Beliau dibandingkan hanya sekedar ekspresi atau membicarakan tentang-Nya.
Swami memberikan satu contoh kepada kita: jikalau anda berdiri dengan air sebatas lutut, maka anda bisa berbicara; jikalau ketinggian air sudah mencapai sebatas leher, anda masih tetap bisa berbicara. Akan tetapi, jikalau anda sudah tenggelam di dalam air, maka anda sudah tak mungkin lagi berbicara. Demikianlah, apabila anda hanya mempunyai pengetahuan yang parsial (separuh-separuh), maka anda berbicara; ketika pengetahuan anda sudah sebatas leher, maka anda akan selalu berbicara terus. Dalam hal ini saya juga tidak terkecualikan! (tertawa) Namun apabila anda sudah terlarut ke dalam pengetahuan itu, maka anda akan berhenti untuk berbicara. Pengalaman yang mendalam itu berada di luar jangkauan ekspresi, dan ia hanya mungkin dicapai apabila kita melanjutkan sadhana atau latihan spiritual, dan menjadi penerima anugerah-Nya yang berlimpah-limpah.
Pengetahuan berarti kehidupan
Saya ingin mengarahkan perhatian kita pada point berikut, yaitu 'to know' (mengetahui) berarti 'to live' (hidup). Hal ini tidak berarti kegiatan membaca, mendengarkan ataupun mencatat. To know bukanlah diartikan sebagai penyebar-luasan kepada orang lain, hal-hal yang telah anda baca atau dengar.
Knowing means living (mengetahui berarti kehidupan). Tanpa menghidupi hal-hal yang sudah kita ketahui, maka itu berarti kita menjalani kehidupan seperti sebuah komputer. Jikalau pengetahuan merupakan jaminan untuk mencapai pembebasan atau moksha, maka tentunya komputer akan menjadi yang pertama kalinya tiba di surga. (tertawa) Mesin pencari di internet, Googlei, akan menjadi jiwa yang mencapai pencerahan tertinggi di alam-semesta ini, sebab ia mempunyai hampir semua pengetahuan yang ada di dunia ini.
Tetapi kenyataannya adalah bahwa yang terpenting bukanlah pengetahuan pencarian Google yang diproyeksikan di layar monitor; melainkan pencarian yang ada di dalam diri kita masing-masing, yang diproyeksikan di dalam hati kita. Seberapa sedikitpun yang saya baca, saya harus bisa mengalaminya dan menindak-lanjutinya. Experience sangatlah berfaedah dan bermanfaat di perjalanan spiritual; sedangkan knowledge (pengetahuan) hanya akan menjadi beban saja.
Pengetahuan akan menghasilkan keragu-raguan
Anda tentunya melihat terdapat ribuan penduduk desa yang berdatangan ke Prashanti Nilayam. Kebanyakan mereka duduk di barisan paling belakang; namun ketika mereka melihat Bhagawan, mereka menitikkan air-mata kebahagiaan. Dan ketika Bhagawan mendistribusikan pakaian kepadanya, mereka tampak begitu emosional dan menangis. Sementara itu, kebanyakan dari kita yang terbiasa tinggal di sini, menangis karena alasan yang berbeda. “Mengapa Swami lebih memperhatikan orang itu dibandingkan saya?” (tertawa) Para penduduk desa yang polos itu meneteskan air-mata kebahagiaan, sedangkan kita menangis oleh karena cemburu dan iri-hati.
Terutama kita-kita ini yang sedemikian terpelajar, malah justru penuh dengan keragu-raguan. Barangkali para 'doubting Thomas' mempunyai 3 gelar Doktor! Mungkin itulah sebabnya keinginan para 'doubting Thomas' telah terpenuhi dalam kehidupan kita ini melalui tingkat kesarjanaannya tersebut. Namun ketahuilah bahwa pengetahuan hanya akan menghasilkan keraguan. Ini merupakan beban yang sangat berat.
Ucapan saya tadi bukanlah berarti bahwa saya ingin agar anda membakar semua buku-buku anda atau membuang buku-buku saya yang ada di rumah! (tertawa) Saya bahkan tidak mempunyai ruangan untuk bergerak di dalam apartmen saya yang kecil! Dimana-mana terdapat buku-buku. (tertawa) Paling tidak separuh kehidupanku terpakai untuk mencari buku, belum lagi menghitung berapa lama waktu yang dipakai untuk membacanya! (tertawa) Di antaranya terdapat Bhagavad Gitaii ('Nyanyian Tuhan' – salah satu kitab suci Hindu), buku tentang berbagai subyek, buku, buku, buku dimana-mana – tak ada satupun yang dibaca! (tertawa). “Air dan air dimana-mana, namun tidak setetespun yang diminum!”
Jadi, apa sih yang sebenarnya terjadi? Apakah melihat begitu banyaknya buku akan memberikan saya kegembiraan? Apakah informasi yang saya baca memberikan saya kepuasan? Apakah dengan membagikan hal-hal yang saya baca akan memberikan saya kebahagiaan? Tidak.
Jadi, marilah kita membaca; tapi kegiatan membaca itu dilakukan agar kita dapat melakukan hal-hal yang kita baca tersebut. Marilah kita mengetahui bagaimana menghidupi pengetahuan tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari. Marilah kita hidup untuk mengetahui – sebab kebanyakan dari kita tidak tahu bagaimana cara untuk hidup. Setelah memiliki rumah dengan pemandangan yang indah, hembusan angin yang sepoi-sepoi, cuaca yang menyenangkan, orang-orang baik di sekitar dan jumlah rekening di bank yang memadai – ternyata kita masih belum juga happy! Ini berarti ada sesuatu yang tidak beres dengan diri kita sendiri.
Yang kita perlukan adalah realitas kehidupan, eksistensi kehidupan sebagaimana adanya. Eksistensi haruslah didasarkan pada pengalaman, sebab jikalau tidak, maka eksistensi akan kehilangan maknanya. Eksistensi bukanlah diartikan sebagai membaca berjilid-jilid buku ataupun mengoleksi gelar (kesarjanaan). Eksistensi artinya mengalami (to experiment). Apa jenis eksperimen yang bisa mewujudkan eksistensi atau kehidupan kita ini? Apakah sama dengan jenis eksperimen yang dilakukan di dalam laboratoriium sains atau fisika? Tidak. Eksperimen ini adalah untuk mengalami realitas kita sendiri. Eksistensi, eksperimentasi dan experience adalah tiga hal yang harus kita dalami secara mendalam. Kita perlu memiliki experience tentang realitas sejati kita.
Ketakutan dan Keragu-raguan
Apakah realitas tersebut? Dimanakah ia berada? Apa saja hambatan-hambatan yang menghalangi perjalanan kita?
Hambatan yang pertama adalah bahwa kebanyakan dari kita merasa ketakutan. Kita takut terhadap persoalan-persoalan di masa mendatang, takut atas kesulitan yang bakal terjadi; beginilah ketakutan dan keragu-raguan kita. Itulah sebabnya mengapa kita hidup dalam ketakutan. Kita takut terhadap musuh-musuh kita. Kita juga takut terhadap teman-teman kita, sebab mereka sama seperti kita sendiri, kelak mereka dan kita akan saling bersaing untuk memperebutkan hal atau barang yang sama seperti yang kita inginkan.
Sebagai contoh, apabila teman saya juga duduk di verandah, dekat dengan tempat dimana saya duduk, dekat dengan kelompok saya; maka saya akan mendorongnya agar menjauh dari saya. (tertawa) Dia adalah teman akrab saya – tetapi bukanlah demikian halnya ketika kita sedang berada di verandah! Oh, no, no, no! (tertawa) Verandah adalah hak eksklusif saya! Setelah usai bhajans, kita kembali menjadi teman; tetapi ketika sedang bhajans atau ketika sedang berada di verandah, kita bukanlah teman! Jadi, terlihat bahwa label teman yang kita berikan itu tergantung pada situasi dan kondisi. Oleh sebab itu, kita tidak atau belum bersikap friendly terhadap teman-teman kita.
Lalu kita juga takut terhadap musuh-musuh kita. Barangkali mereka akan melaporkan secara negatif sadahana yang kita lakukan (tertawa); lalu ada kemungkinan kita tidak diperbolehkan lagi untuk duduk di verandah, atau bahkan tidak boleh lagi diizinkan masuk ke Prasanthi Nilayam! (tertawa) Jadi, kita merasa sangat cemas dan gelisah.
Hambatan dan persolan, 'jikalau saja' dan 'jikalau tidak', semuanya ini membuat hidup kita susah. Berikut ada satu contoh. Dalam perjalanan kita ke Prasanthi Nilayam, muncul keragu-raguan tentang darshan pagi ini. (tertawa)
Seseorang mungkin meyakinkan kita, “Ya, veda chanting sudah dimulai, jadi Swami akan segera datang.”
Namun saya tidak merasa senang, sebab muncul pikiran yang kedua: “Apakah Swami akan datang menghampiri bagian pria atau akankah Beliau langsung menuju ke bhajan hall?”
Anda mungkin akan diberitahu, “Ya, Swami akan datang ke bagian pria.”
Tetapi sekarang muncul lagi keragu-raguan yang ketiga: “Apakah Swami akan melihat ke arah tempat saya duduk, ataukah Ia akan menoleh ke arah lainnya? Atau mungkinkah Beliau akan berpura-pura sedang membaca surat dari seseorang?” (tertawa)
Tuhan adalah aktor yang sangat piawai, aktor merangkap sutradara. Beliau akan terus-menerus membaca surat ketika sedang berada di depan anda. Apa yang Beliau lakukan? (Membaca) surat, kemudian kartu (undangan) pernikahan! Apa yang sedang dibaca oleh-Nya? Mengapa? Ini semuanya adalah teknik-teknik seorang Master.
“Apakah Beliau akan melirik saya? Apakah Ia akan menerima surat saya?” Terlihat bahwa keragu-raguan terus bermunculan. Seperti ketika musim panas, api dengan cepat menjalar dari rumah ke rumah dan membakarnya hingga tinggal abu; maka demikian pula, keragu-raguan akan memusnahkan kehidupan kita. Keragu-raguan adalah ibarat api, panas; ia merupakan musuh terbesar.
Itulah sebabnya, di dalam Bhagavad Gita dikatakan bahwa, “Manusia yang diliputi oleh keragu-raguan pasti akan binasa” Samshyayatma Vinashyati. Tetapi kita ingin hidup lebih lama! Kita toh tidak sedang terburu-buru. Kita belum frustasi ataupun putus asa! (tertawa) Mengapa kita harus binasa sekarang ini?
Kehidupan ini akan terbebaskan dari ketakutan hanya apabila kita bisa membebaskan diri kita dari keragu-raguan. Takut atas segala-galanya akan menghalangi kita dari menikmati realitas. Lalu, apa solusi untuk itu? Obat penawarnya adalah: “Why fear when I am here?” Kita menyanyikan lagu ini sebegitu merdunya. Kita mengetahui kata-katanya, tetapi kita tidak memiliki keyakinan terhadap kata-kata tersebut. Jadi, oleh sebab itu, untuk terbebaskan dari ketakutan, satu-satunya jalan adalah dengan memiliki keyakinan total kepada Tuhan dan eksistensi kita sendiri. Keyakinan total, kepatuhan dan kepercayaan dalam realitas kehidupan akan membuat kita bebas dari rasa takut.
Tidak ada keamanan 100% dalam sebuah mobil anti-peluru, baju anti-peluru ataupun pengawal pribadi – peluru itu tetap bisa menghampirimu. Mengapa? Well, kita tahu bahwa Indira Gandhiiii ditembak-mati oleh pengawal pribadinya sendiri! Bukankah seharusnya pengawal itu bertugas untuk melindunginya, tetapi justru membunuhnya! Jadi, tidak ada pengawal yang bisa membebaskanmu dari ketakutan.

Indira Gandhi (1917-1984)
Dual Mind merupakan penyebab ketakutan
Apa yang menyebabkan ketakutan? Mengapa kita merasa takut? Penyebabnya tiada lain adalah karena dual mind (bisa diartikan sebagai batin yang bersikap ganda (men-dua), namun untuk seterusnya penterjemah lebih memilih untuk tetap menggunakan istilah tersebut dalam bahasa aslinya). Ketika segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya, namun saya masih tetap saja belum happy sepenuhnya. Mengapa demikian? Sebab saya tidak tahu secara pasti apa yang akan terjadi besok; kemungkinan saya akan kehilangan kebahagiaan itu esok harinya. Batin seperti ini bersikap men-dua, sebab di kala sedang happy, ia malah memikirkan momen-momen yang tak berbahagia. Itu pertanda bahwa kita tidak mempunyai pengalaman tentang kebahagiaan yang utuh/komplit.
Ketika Swami sedang berada di depan kita, marilah kita menikmati Divine darshan secara utuh. Tetapi kita tidak melakukan hal seperti itu, sebab kita memikirkan tentang perjalanan pulang atau kita memikirkan tentang acara/program yang akan kita lakukan. (Apakah Swami akan menerima acara kita besok?) Atau kita mungkin menebak-nebak apakah hari ini adalah hari pizza? (tertawa) Selanjutnya kita begitu antusias untuk lari ke toko serba-ada. Saya melihat banyak orang yang berjalan sedemikian anggun ketika pergi ke Mandir (kuil), tetapi mereka malah berlarian ketika hendak pergi ke toko serba-ada. Kelihatannya toko-toko itu bagaikan mandir yang sebenarnya bagi kebanyakan orang! (tertawa)
Batin ini penuh dengan stores (toko/gudang): ia menyimpan pikiran-pikiran, kecenderungan negatif; penderitaan dan kesengsaraan. Batin ini bersifat dual – ia menyimpan (stores); oleh sebab itulah, kita juga sangat menyukai stores (toko/tempat belanja). Sedangkan Mandir bersifat non-dual. Penampakkan/kemunculan Swami bersifat non-dual dan akan memberikan bliss. Tetapi batin yang serba dual ini tidak menikmati momen tersebut dan ia juga tidak mengizinkanmu untuk mendapatkan konsentrasi yang penuh.
Seandainya saya ingin menangis; biarkanlah saya menangis tanpa hambatan. Akan tetapi prestise akan masuk ke dalam pikiran saya. Apa yang akan dikatakan oleh khayalak umum nanti? Oleh karenanya, sayapun tidak jadi menangis. Saya tidak meloncat-loncat kegirangan ketika sedang bergembira. Mengapa kita tidak sanggup mengungkapkan seluruh realitas pengalaman tersebut? Kita penuh dengan rasa takut. Jikalau seandainya alasan kesedihanku diketahui oleh anda, apa yang akan terjadi terhadap jabatan atau posisiku? Apa yang akan terjadi atas status dan kehormatanku? Itulah sebabnya, dual mind merupakan faktor penyebab ketakutan.
Kemelekatan terhadap badan jasmani
Saya bertanya kepada seorang sahabat saya, yang dulunya adalah seorang yang sangat perkasa dan baru-baru ini ia terlihat harus berjalan dengan bantuan tongkat jalan.
Saya berkata, “Apakah ada masalah dengan anda? Mengapa anda harus berjalan dengan tongkat itu?”
Ia menjawab, “Mr. Anil Kumar, ini bukanlah pertanda bahwa saya sudah lemah, sebetulnya saya juga tidak membutuhkannya. Namun berkat tongkat ini, saya bisa mendapatkan tempat duduk khusus di bangku atau kursi.” (tertawa)
Teman saya itu, Mr. Mallikarjuna Rao, berkata: “Ketika orang-orang melihatku berjalan dengan tongkat, maka mereka akan bangun dan memberikan kursinya.” (artinya tongkat itu menghindarinya dari keharusan untuk berdiri dalam barisan!) (tertawa)
Kemelekatan jasmaniah merupakan penyebab mengapa kita berbicara seperti itu. Kita tidak mau menerima realita tongkat berjalan ini.... bahwa kita membutuhkannya, bahwa kita akan terjatuh tanpa tongkat itu. Orang-orang sangat peduli tentang bagaimana penampilannya.
Lalu ada beberapa orang yang sangat fussy (rewel) tentang rambutnya, bahkan ketika sedang berjalan, saya melihat seorang siswa terus-menerus menyisir rambutnya. Saya tidak tahan untuk tidak menggodanya serta berkelakar.
Saya berkata, “Apa yang sedang engkau lakukan? Sebetulnya kamu terlihat jauh lebih menawan dengan rambut yang tidak disisir. (tertawa) Sebagian dari ketampananmu telah hilang!”
“Oh, apakah betul demikian Pak?” ia menjawab dengan penuh perhatian.
“Ya, betul. Engkau bisa menilainya sendiri.” (tertawa)
Kesombongan kita bukanlah satu-satunya pertanda kemelekatan atas badan jasmani. Jikalau kita menderita sakit, maka hal itu saja sudah cukup untuk menjadi bahan berita internasional! Ketika kita sedang bekerja, kita menjadi sumber kepedihan bagi banyak orang. Rekan-rekan kerja mendoakan agar kita lebih cepat pensiun sebab kita sudah cukup banyak menganggu mereka. Setelah pensiun, perbuatan kita yang sering menyusahkan orang lain itu sekarang terkukmpul di dengkul kita sendiri (tertawa). Hal itu tiada lain adalah reaction dan reflection! (tertawa)
Kita terserang sakit-kepala oleh karena kita menjadi sumber kepusingan bagi rekan-rekan sekerja kita! Lalu kita pergi ke dokter dengan rasa sakit ini. Sang dokter berkata, “Tak ada pengobatan bagi anda – anda harus belajar untuk mengambang (levitate)!” (tertawa) Jadi, rasa sakit yang telah kita berikan kepada kolega kita akan tercatat di buku besar Divine, dan Beliau akan membayarkannya kembali kepada kita secara manis di hari ini. Mengapa tidak? Marilah kita menikmatinya juga.
Apabila cinta-kasih terdapat di dalam dirimu, maka engkau akan menemukan cinta-kasih di sekelilingmu
Swami berkata, “Apabila di dalam dirimu terdapat cinta-kasih, maka engkau akan melihat bahwa seluruh atmosfir akan terisi oleh cinta-kasih. Orang-orang akan datang menghampirimu; mereka akan mencintaimu.” Jadi, faktor penyebab (kesalahan) ada di dalam diri kita sendiri; alih-alih mengoreksi diri, kita malah berkata: “Tidak ada seorangpun yang datang kepada saya.”
Orang-orang mencintai kita adalah dikarenakan kita mencintai mereka. Anda haruslah menjadi sosok individu yang penuh dengan cinta-kasih. Kecintaan tersebut akan menarik semua orang kepadamu. International Youth Conference yang baru-baru ini diadakan sanggup menarik sedemikian besar peserta layaknya perayaan ulang-tahuan. Mengapa demikian? Penyebabnya adalah Attraction (Kekuatan Daya-Tarik)! Swami menarik (perhatian) banyak orang.
Kemarin banyak orang mengira Swami akan pergi ke Ruangan Konferensi dan oleh sebab itu, mereka berlarian ke arah itu. Namun yang terjadi adalah mobil Bhagawan berbelok ke kiri. Swami tidak menunjuk ke arah kiri dengan tangan-Nya supaya bisa terlihat oleh kita, tetapi Ia hanya mengerakkan jari tangan agar cukup hanya si pengemudi yang mengetahuinya. (tertawa) Sang supir perlu berhati-hati agar terhindar dari kerumunan massa, itulah sebabnya ia berbelok ke arah yang berlawanan, dan hanya si supir yang mengetahuinya! Swami memastikan agar kita tidak melihat petunjuk-petunjuk yang sedang diberikan-Nya!
Statement yang terakhir berbunyi sebagai berikut: Apabila di dalam dirimu terdapat cinta-kasih, maka engkau akan menemukan cinta-kasih di sekelilingmu. Jikalau kebencian berkecamuk di dalam dirimu, maka orang-orang juga akan membencimu. Mengutip kata-kata Swami, “Segala sesuatunya adalah refleksi dari inner being (keadaan hatimu sendiri).” Sebagaimana engkau mencintai, maka engkau juga akan dicintai. Oleh sebab itu, ketakutan kita disebabkan oleh karena tidak adanya cinta-kasih yang sejati di dalam diri kita sendiri.
Memang kita memiliki cinta-kasih, tetapi cinta-kasih tersebut bersifat kondisional: “Aku mencintaimu jikalau engkau melakukan hal-hal yang kukatakan. Aku mencintaimu jikalau engkau menerimaku, atau jikalau engkau memberiku pinjaman”, dan seterusnya. Akan tetapi, jikalau cinta-kasihmu bersifat transcendental (teramat dalam), selfless (tanpa adanya sifat ego) dan tidak terikat oleh waktu dan ruang, maka engkau akan menemukan bahwa seisi dunia di sekitarmu akan penuh dengan cinta-kasih. Engkau akan menemukan getaran cinta-kasih di kala engkau menatap sekuntum bunga. Engkau akan merasakan hangatnya cinta-kasih ketika menyaksikan matahari terbit atau ketika seorang anak kecil mendekatimu. Usia sama sekali bukanlah kendala dalam hal cinta-kasih.
Ada sebagian orang, seperti halnya Presiden India, Abdul Kalamiv, yang selalu dikerumuni oleh anak-anak. Akan tetapi, beliau juga beraktivitas di sekeliling ratu dan presiden dunia. Anda adalah orang yang terkaya seandainya anda mencintai setiap orang. Jikalau anda berkata, “Aku mencintai orang-orang yang satu level dengan saya”, maka itu berarti anda belum mencapai level tersebut. Level atau ranking adalah sesuatu yang diberikan oleh orang lain kepada anda; ia bukanlah sesuatu yang dapat anda nyatakan sendiri.
Presiden ke-dua-belas India (2002-2007): Dr. A.P.J. Abdul Kalam
Semakin anda mencintai (tanpa membeda-bedakan bahasa, warna kulit, jenis kelamin atau usia), maka semakin kaya pula diri anda. Inilah rahasia Bhagawan Sri Sathya Sai Baba. Bhagawan adalah inkarnasi cinta-kasih. Beliau adalah cinta yang sedang berjalan di atas dua kaki. Itulah sebabnya mengapa seisi dunia tertarik kepada-Nya.
Jadi, supaya dapat terbebas dari ketakutan, saya harus memahami tentang kecurigaanku sendiri, keprihatinan serta gangguan yang ada di dalam diriku sendiri – sebagai faktor yang bertanggung-jawab atas ketakutan tersebut. Kondisi-kondisi di luar tidak boleh mengangguku. Inilah point yang pertama.
Bagaimana caranya untuk menjadi sukses?
Point yang kedua adalah: Bagaimanakah caranya untuk memperoleh kehidupan yang bermanfaat dan sukses? Setiap orang menginginkan hal yang sama. Apakah anda pernah bertemu dengan seseorang yang mengatakan, “Aku ingin gagal?” Apakah anda pernah mendengar adanya orang yang mengatakan, “Aku ingin kemalangan?” Tidak bukan!?
Kita ingin dan mendambankan momen-momen yang membahagiakan. Kita ingin sukses dalam setiap aspek kehidupan kita. Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk mencapainya? Well, apa yang harus dilakukan oleh seorang pasien agar ia cepat sembuh? Tentunya ia harus menjalani serangkaian perawatan agar kembali menjadi sehat. Apa yang harus dilakukan oleh seorang siswa agar ia bisa lulus dengan angka yang tinggi? Tentunya ia harus belajar. Nah, demikian pula dengan para aspiran spiritual, apa saja yang harus ia lakukan agar ia mendapatkan momen-momen yang bermanfaat secara religius dalam kehidupannya?
Swami Vivekanandav secara jelas mengajarkan kita: hal pertama yang harus kita miliki agar dapat mencapai kesuksesan dalam kehidupan ini adalah rasa tidak takut (fearlessness). Bhagawan berkata, “Jikalau engkau khawatir apakah engkau masih akan hidup hingga besok, maka tiada sesuatupun yang bisa engkau lakukan. Engkau tak akan beranjak keluar dari rumahmu.” Jikalau anda berpikir, “Apakah saya akan selamat atau tidak jikalau pergi ke pasar?” atau “Selamatkah kalau pergi ke kampus sekarang?” - maka akibatnya anda tidak akan pernah ke pasar maupun kampus. Oleh sebab itu, ketidak-takutan merupakan kondisi atau prasyarat pertama untuk mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupan kita.
Swami Vivekananda(1863-1902)
Persyaratan kedua adalah kesucian atau kemurnian di dalam hati kita. Untuk menyongsong hal-hal yang suci yang bakal terjadi, kita harus mempersiapkan agar hati kita juga diisi dengan kesucian. Jikalau hati tersebut sudah dimurnikan, maka hal-hal yang auspicious akan datang dengan sendirinya.
Berikut ada satu contoh yang sederhana: Bhagawan berkata, “Dari ujung rambut hingga ke ujung kaki, Aku tak memelihara sifat-sifat yang congkak sama sekali. Aku tak membenci siapapun; Aku tak mempunyai musuh. Bahkan tak sehelai rambut-Ku yang memiliki sifat benci ataupun dengki terhadap siapapun juga.” Oleh sebab itulah, kesucian dan kemurnian yang ada di dalam diri kita merupakan solusi agar dapat menyingkirkan kebencian. Inilah awal-mula dari serangkaian momen-momen menguntungkan yang bakal terjadi dalam kehidupan kita. Ia merupakan langkah pertama untuk menuju kesuksesan.
Menerima diri sendiri
Ada orang yang suka mempraktekkan self-condemnation (mencela diri sendiri); yang mana sebenarnya tindakan seperti itu sama sekali tidak ada gunanya dan murahan. Anda bisa meminta seseorang untuk berbicara dan mereka akan mengatakan hal-hal sebagai berikut kepada audience, “Oh, saya dulunya adalah seorang perokok-berat, tapi sekarang saya sudah tidak merokok lagi.” Atau, “Anda tidak tahu seberapa jahatnya saya dahulu.” Well, sebetulnya sudah cukup bila anda mengetahuinya dan bahwa anda merasa malu atas kebiasaan yang jelek itu; tetapi mengapa anda harus menceritakannya kepada kami? Mereka berkata, “Saya adalah orang yang paling berdosa. Saya telah melakukan hal-hal yang tidak baik.” So what gitu lho!
Self-condemnation, self-denial (pengingkaran diri) dan self-negativity (menjelek-jelekkan diri sendiri) adalah sama-sama tidak ada manfaatnya bila dibandingkan dengan self-aggrandisement (menonjolkan diri sendiri), self-praise (memuji diri sendiri) dan self-glorification (pemujaan terhadap diri sendiri). Oleh sebab itu, kita tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Marilah kita belajar untuk menerima, memaafkan dan menghormati diri kita. Dengan demikian, maka dunia juga akan memaafkan dan menghormati kita. Kita perlu belajar self-acceptance (menerima diri sebagaimana adanya). Janganlah kita berangan-angan untuk menjadi orang lain. Bila hal tersebut dilakukan, kita akan gagal dalam upaya tersebut dan juga akan membuat diri kita berhadapan dengan kegagalan. Jikalau saya mencoba untuk berdandan agar terlihat seperti seorang bintang-film, maka hal itu justru akan terlihat ganjil, dan saya akan kehilangan rasa hormat dari orang lain juga.
Oleh sebab itu, janganlah kita mencoba-coba untuk menjadi orang lain; entah seberapa hebat, mulia ataupun religiusnya tokoh tersebut. Anda adalah anda. Jikalau orang lain lebih hebat, maka hal itu tidak akan menolongmu; demikian pula, self-condemnation juga tidak akan membantumu. “I am what I am, aku adalah aku, dengan segala kelebihan maupun kekurangannya, dan dengan segala point positif maupun negatif yang ku-miliki.” Inilah salah-satu langkah untuk menuju kesuksesan.
Kesuksesan Spiritual
Apakah yang dimaksud dengan kesuksesan spiritual? Sukses di dunia ini: dalam hal profesi, karir ataupun kehidupan berkeluarga adalah sama baiknya dengan kesuksesan spiritual. Agama adalah berkaitan dengan kompetensi, efisiensi dan kemampuan. Oleh sebab itu, marilah kita memahami bahwa kesuksesan spiritual dan dunawi adalah tidak saling bertentangan. Mereka tidak saling berlawanan. Mereka justru saling melengkapi satu sama lainnya. Kesuksesan adalah sesuatu yang kita namakan sebagai 'joint affair' (persekutuan). Kesuksesan tidaklah bersifat ekslusif; melainkan ia adalah sesuatu yang inklusif.
Semuanya ini bersumber dari literatur Sai. Setiap point yang diutarakan oleh Bhagawan sangatlah menarik, oleh sebab Beliau mengemukakannya sedemikian rupa sehingga membuat kita mudah memahaminya, mencernanya dan kemudian ditindak-lanjuti.
Baba mengatakan bahwa kita meletakkan kepercayaan kita dalam nama dan rupa. Kita begitu yakin total kepada manusia, padahal sebenarnya keyakinan dan kepercayaan seperti itu sebetulnya tidaklah tepat, sebab hanya kepada Tuhan-lah seyogayanya kita menaruh kepercayaan dan keyakinan itu. Jikalau anda yakin total kepada-Nya, maka engkau tidak akan pernah dikhianati dan tidak akan pernah mengalami kekalahan dalam permainanmu. Engkau pasti akan sukses.
Tuhan ada di sisimu
Berikut adalah satu contoh yang diberikan oleh Bhagawan di dalam Sathya Sai Speaks: Ada seorang raja yang mempunyai beberapa orang sastrawan yang sering membacakan hasil-hasil karya mereka, sebagai bentuk hiburan untuk sang raja. Namun rupanya raja lebih condong untuk menyukai salah seorang sastrawannya, dan sebagai akibatnya, sastrawan yang lain merasa iri-hati/cemburu terhadapnya. (Hal-ihwal mengenai cemburu sudah tidak asing lagi, sifat seperti itu sudah ada sejak awal ciptaan, semakin bertambah dari hari-ke-hari, ibarat seperti koper yang semakin bertambah berat, yaitu dibebani oleh kebencian, sikap bermusuhan dan keinginan untuk membalas-dendam).
Suatu hari mereka menantangnya, “Jadi kau pikir kamu ini orang hebat ya? Apakah kau kira dirimu seorang sastrawan yang paling terkemuka? Come on, mari kita saling berdebat dan selesaikan masalah ini.”
Sastrawan itu merasa tidak enak-hati dan berkata, “Sirs, saya tidak ingin bersaing dengan anda. Saya tidak ingin berargumentasi. Untuk itu, saya mengaku kalah.”
Pihak lawan tidak tinggal diam, “Engkau harus menyatakan secara tertulis bahwa kamu mengaku kalah, agar kami bisa memperlihatkannya kepada raja.”
Oleh sebab itu, sastrawan itupun menuliskan, 'Aku kalah dalam debat ini. Aku tidak sanggup menanggapi argumen-argumen yang ditujukan kepada saya. Aku sudah kalah.' Ia menuliskannya dan kemudian menyimpannya dalam amplop tertutup.
Keesokan hari, para sastrawan yang pencemburu itu berkata, “Oh raja, apakah baginda berpikir bahwa orang yang berada di sisi raja adalah sastrawan yang hebat? Ia telah mengaku kalah dalam debat bersama dengan kami dan telah menyatakan secara tertulis bahwa ia mengaku kalah.”
Mereka membuka amplop dan mulai membacakan surat itu di hadapan raja, namun ternyata Tuhan telah mengoreksi tulisan yang ada di situ! Alih-alih mengaku kalah, di dalam surat itu tertulis, 'Oh raja, semua sastrawan telah dikalahkan; Aku telah memenangkan perdebatan ini.' (tertawa)
Walaupun orang lain ingin menjatuhkanmu, namun Tuhan tidak akan mebiarkan hal itu terjadi. Walaupun orang lain ingin mengalahkanmu, Tuhan akan berada di sampingmu. Jikalau Tuhan, pahlawan kita, selalu bersama dengan kita – sang zeroes (nol), maka kita tidak akan pernah dijatuhkan, dipermalukan ataupun dihina oleh siapapun juga.
Anda bukanlah badan dan juga bukan batin
Kesalahan lainnya yang kita perbuat adalah bahwa kita sering mengira bahwa wujud dan nama sebagai sesuatu yang permanen. Walaupun saya tahu bahwa diri saya tidaklah permanen, namun saya malah suka takut kalau-kalau musuh-musuh saya justru permanen. Mengapa saya harus mengira bahwa badan jasmani musuh-musuhku permanen?
Tambahan pula, saya bukanlah mind (batin), demikian pula musuh saya juga bukanlah batin. Perasaan tersanjung, kegirangan, dipermalukan, dipuji, difitnah, dicela, rasa malu, pengalaman-pengalaman menyenangkan maupun memilukan, semuanya ini adalah awan yang berlalu. Mereka tidak akan dapat mempengaruhi anda, sebab anda bukanlah badan jasmani dan juga bukan batin.
Inilah hal-hal yang telah digariskan oleh Bhagawan guna mengangkat derajat kehidupan kita ke tingkat yang lebih tinggi (mulia), agar kita hidup lebih damai dengan diri kita sendiri, serta menikmati momen-momen yang berharga dalam kehidupan ini. Setelah mengetahui tentang hal-hal tersebut, kita akan mencapai kesuksesan dalam setiap tindakan dan upaya yang dilakukan.
Janganlah tergesa-gesa – Menunggu adalah (praktek) spiritual
Kemanapun juga saya pergi, saya selalu meminta teman-teman saya untuk mempelajari literatur Sai secara analitis dan menerapkan prinsip-prinsip yang tercantum di situ dalam kehidupan sehari-hari. Mereka pasti akan menemukan manfaat dan keuntungan dari ajaran-ajaran tersebut.
Akan tetapi, kita lebih suka barang-barang yang sudah jadi (ready-made). Kita menghendaki kopi instan, makanan instan dan moksha yang instan pula! Padahal instant moksha tidak ada sama sekali!
Seperti yang dikatakan oleh Baba, “Engkau berjuang-keras selama tiga tahun untuk mendapatkan gelar sarjana. Sedang untuk gelar pasca sarjana, engkau masih harus belajar keras selama lima tahun. Tapi, engkau malahan menginginkan instant moksha!?”
Kita selalu hurry (tergesa-gesa) dalam segala hal dan dalam prosesnya, kita melupakan Sri Hari, Tuhan sendiri. Yang terpenting bukanlah hurry; melainkan Sri Hari! Oleh sebab itu, marilah kita menenangkan diri dan menjalin kedamaian serta menikmati kehidupan ini sebagaimana adanya.
Mengapa kita gagal?
Setelah membahas tentang kesuksesan, marilah sekarang kita membicarakan tentang kegagalan. Mengapa kita tidak sukses? Apa yang Baba katakan tentang kegagalan? (Sebagai seorang guru, tugas saya adalah melakukan rekoleksi kembali hal-hal yang telah dikatakan oleh Baba atau yang telah dituangkan dalam tulisan, dan menyajikannya kembali kepada anda).
Jadi, sebagai awalnya, kita tidak memiliki toleransi dan kesabaran. Ketiada-sabaran merupakan salah-satu penyebab kegagalan kita. Sebagai contoh, ada seseorang (yang tidak akan kusebutkan namanya, sebab beliau ada di sini dan saya masih ingin hidup hari ini!) berkata kepada saya, “Swami (belakangan) tidak memberikan darshan. Saya kira saya akan mendapatkan darshan-Nya pagi ini dan akan duduk di barisan terdepan juga.” (tertawa) Oleh sebab itu, anda tiba di sini jam 8 pagi dan berharap segalanya usai pada jam 9! Padahal, terdapat beberapa orang yang bahkan sudah menunggu selama bertahun-tahun lamanya!
Kita sering melupakan fakta bahwa kegiatan menunggu adalah jauh lebih berharga dan bernilai dibandingkan tercapainya suatu keinginan sekalipun! (tepuk-tangan) Satu contoh sederhana: Misalkan anda ingin pergi ke suatu pertunjukan atau film pada malam hari. Dari sejak pagi hari, anda sudah memberitahukan anggota keluarga untuk mempersiapkan diri. Di sore harinya, anda menghabiskan waktu untuk berdandan oleh karena anda akan bertemu dengan banyak orang di sana. Rencana untuk pergi ke acara tersebut telah menyita sedemikian banyak waktu anda sejak pagi, siang hingga sore. Namun ketika semuanya usai, kegairahan, keceriaan dan kesenangan yang menyertainya juga ikut sirna. Hal itu berakhir oleh karena tujuan atau rencana anda sudah tercapai.
Menunggu adalah praktek spiritual
Menunggu (kedatangan) Tuhan bahkan jauh lebih berharga dibandingkan tercapainya suatu maksud/tujuan, sebab menunggu adalah bagian dari prayer (doa), meditasi dan kontemplasi. Penungguan seperti itu bersifat spiritual. Para rishi dan sadhu telah menunggu selama beratus-ratus tahun di dalam hutan, hanya demi untuk menunggu dan merenungkan Tuhan; sama seperti yang kita lakukan di Kulwant Hall, ini berarti (dengan segala kerendahan hati) bahwa kita-kita ini adalah kaum rishi dan sadhu juga.
Janganlah kita menganggap enteng diri sendiri. Janganlah suka mencela diri sendiri. Kebanyakan para bhakta sudah berada di sini mulai dari jam 7 hingga 10 pagi, dan lalu dari pukul 2 hingga 6 sore. Apa lagi yang diharapkan dari bhakta tersebut? Bukankah ini adalah meditasi? Bukankah ini adalah sadhana? Menunggu selama berjam-jam dengan kaki bersila sungguh bukan lelucon – sepertinya kamar kita di surga sudah dibooking! (tertawa) Sakit di persendian juga sudah pasti kita dapatkan! (tertawa) Dan dengan rasa sakit itu (pain), datanglah gain (manfaat/keberuntungan).
Lagi pula, kebanyakan para bhakta juga tidak diizinkan untuk membawa serta buku ataupun alat tulis dan mereka juga tidak boleh berbicara seenaknya (suara kencang tidak diperkenankan). Oleh sebab itu, kita dipaksa untuk bermeditasi; kita diatur dan dikondisikan sedemikian rupa hanya untuk berdoa! Ada sekelompok orang yang harus pergi ke kamp-kamp spiritual di Pegunungan Alpenvi ataupun di Mount Abuvii hanya supaya dapat bermeditasi; tetapi di sini kita justru tidak bisa melakukan hal-hal lain kecuali bermeditasi!
Pegunungan Alpen
Mount Abu
Menghabiskan waktu kita di tengah-tengah bhakta adalah suatu hal yang perlu kita dambakan dan kita harus senantiasa beraspirasi untuk mendapatkannya kembali! Orang-orang pergi ke Honoluluviii, Kashmirix atau Lembah Kulux demi untuk mendapatkan pergaulan yang saleh. Hal itu sebenarnya tidaklah perlu. Pergaulan yang saleh (sathsang) justru diberikan secara gratis di Kulwant Hall (tertawa). Betapa untungnya kita-kita ini!
Kulu Valley
Walaupun saya bertutur-kata secara bercanda, saya ingin agar anda semuanya ingat bahwa menunggu Tuhan adalah perbuatan meditatif. Merenungkan Tuhan adalah kontemplasi. Membicarakan tentang Tuhan adalah doa (prayer).
Apapun yang terjadi adalah Divine
Oleh sebab itu, marilah kita memahami bahwa apapun juga yang terjadi terhadap diri kita adalah Divine. Apapun juga yang terjadi dalam bidang spiritual atau religius bukanlah sesuatu yang perlu disesalkan dan tidak perlu dikomplain; marilah kita berbahagia di dalamnya.
Baru-baru ini, sebanyak tiga ribu lima ratus orang bhakta datang ke sini dari Karimnagar untuk melihat Swami. Para anak-anak Bal Vikas tidak berkesempatan untuk mempresentasikan program kebudayaannya. Namun yang justru lebih menangis adalah para guru-gurunya. Demikian pula para orang-tua dan saya tidak sanggup menghibur mereka.
Jadi, saya berkata kepada mereka, “Kalian tidak mendapatkan kesempatan tersebut kali ini, tapi suatu hari kelak, itu pasti akan terjadi. Sekarang kalian justru bisa lebih memperbaharui presentasimu, dan di samping itu, kalian mendapatkan kesempatan untuk datang lagi! Baba ingin melihat kalian lagi. Jikalau saja presentasi sudah usai, maka kalian akan mengatakan, “All right, sampai ketemu Swami, yaitu ketika kami mendapatkan persoalan keluarga ataupun masalah kesehatan.” (tertawa). Beliau justru ingin kalian datang lagi dengan senang hati membawa serta program kebudayaanmu, dengan mood yang lebih baik lagi. Jadi, semuanya ini bukanlah pembatalan; ia hanya penundaan. Ia bukanlah kekecewaan, tetapi adalah janji dan harapan untuk semakin baik lagi di kemudian hari.”
Oleh sebab itu, teman-teman sekalian, apapun juga yang kita lakukan, apapun juga yang kita hadapi, kita harus belajar untuk bersikap toleransi dan bersabar untuk menerimanya. Ketiada-sabaran adalah salah-satu alasan yang menyebabkan kegagalan.
Masih ada beberapa point yang perlu diutarakan, namun waktu kita sudah habis; kita boleh membicarakannya di minggu depan.
Terima-kasih atas waktu dan kehadiran anda.
Semoga Bhagawan memberkati anda.
OM…OM…OM…
Asato Maa Sad Gamaya
Tamaso Maa Jyotir Gamaya
Mrtyormaa Amrtam Gamaya
Om Loka Samastha Sukhino Bhavantu
Loka Samastha Sukhino Bhavantu
Loka Samastha Sukhino Bhavantu
Om Shanti Shanti Shanti
iGoogle Inc. Adalah sebuah perusahaan Tbk di Amerika, yang mengkhususkan diri dalam bidang mesin pencari internet dan iklan on-line. Perusahaan ini bermarkas di Mountain View, California dan memiliki 13,748 pegawai full-time (per tanggal 30 Juni 2007). Misi Google adalah “penyusunan informasi dunia dan membuatnya agar dapat diakses secara universal dan bermanfaat”. Filsafat korporat Google mengikut-sertakan statement “Don't be evil” (jangan menjadi jahat) dan “Work should be challenging and the challenge should be fun” (Pekerjaan seharusnya bersifat menantang dan tantangan itu seharusnya merupakan fun/kesenangan), hal ini mencermikan kebudayaan korporat yang cenderung santai. Google didirikan oleh Larry Page dan Sergey Brin, ketika keduanya merupakan mahasiswa di Stanford University dan perusahaan ini dikukuhkan badan hukumnya pada tanggal 7 September 1998 (lihat juga Kompas, tgl. 4 Oktober 2007).
iiBhagavad Gita (Sanskrit भगवद् गीता) adalah kitab suci dalam bahasa Sanskerta dari Bhisma Parva – dari epic Mahabharata. Kitab ini disakralkan oleh mayoritas pemeluk tradisi Hindu, terutama oleh para pengikut Krishna. Kitab ini sering disebut dengan nama Gita. Isinya adalah berupa percakapan antara Krishna dan Arjuna yang berlangsung di tengah-tengah peperangan Kurukshetra. Menanggapi keragu-raguan dan dilema moral Arjuna, Krishna menjelaskan kepadanya tentang tugas/kewajibannya sebagai seorang perwira dan pangeran serta menguraikan beberapa filsafat Yogic dan Vedanta dalam bentuk perumpamaan dan analogi. Selama wacana-Nya, Krishna memperlihatkan identitasnya sebagai mahluk agung nan suci (Bhagawan), memberkahi Arjuna dengan penampakkan Ilahi-Nya.
iiiIndira Priyadarshini Gandhi (Hindi: इंदिरा प्रियदर्शिनी गांधी) (19 Nopember 1917 – 31 Oktober 1984), beliau adalah Perdana Menteri India untuk tiga kali masa jabatan berturut-turut, yaitu dari 1966 – 1977 dan untuk keempat kalinya dari tahun 1980 hingga terbunuh pada tahun 1984. Beliau adalah Perdana Menteri wanita pertama dan satu-satunya hingga sekarang.
ivAvul Pakir Jainulabdeen Abdul Kalam (Hindi: अवुल पकिर जैनुलाअबदीन अब्दुल कलाम) dilahirkan tanggal 15 Oktober 1931 di Tamil Nadu, India. Beliau biasanya diberi nama Dr. A.P.J. Abdul Kalam, adalah Presiden India yang ke-dua-belas, dari tahun 2002 hingga 2007. Beliau adalah seorang ilmuwan dan insinyur yang terkemuka, sering dijuluki sebagai “Manusia Roket India” atas hasil karyanya dan beliau juga dianggap sebagai mentor, inovator dan tokoh visioner India. Ia juga dikenal sebagai Presiden yang cukup populis di antara kalangan rakyat.
v Swami Vivekananda (Sanskrit: स्वामि विवेकानन्द, Svāmi Vivekānanda) (12 Januari 1863 – 4 Juli 1902), terlahir dengan nama: Narendranath Dutta, adalah salah-satu pemimpin spiritual yang terkenal dan berpengaruh dalam hal filosofi Vedanta dan Yoga. Beliau adalah siswa utama Ramakrishna Paramahamsa dan pendiri Ramakrishna Math dan Ramakrishna Mission. Beliau adalah satu satu figur utama dalam sejarah pergerakan reformasi Hindu. Ia juga memperkenalkan Yoga dan Vedanta ke Amerika dan Inggris melalui ceramah dan wacana pribadinya dalam hal filsafat Vedanta.
viAlps (Bahasa Jerman: Alpen, Italia: Alpi, Perancis: Alpes, Slovenian: Alpe) adalah nama dari salah satu sistem jajaran pegunungan termegah di Eropah, merentang dari Austria dan Slovenia (di bagian Timur), melalui Italia, Swiss, Liechtenstein dan Jerman hingga ke Perancis di bagian Barat. Puncak tertingginya adalah Mont Blanc, setinggi 4,808 meter.
viiMount Abu adalah puncak tertinggi dalam jajaran pegunungan Aravalli Rajasthan di bagian Barat India. Terletak di distrik Sirohi. Jajaran pegunungan ini membentuk dataran tinggi berbatuan sepanjang 22 km dengan lebar mencapai 9 km. Puncak tertingginya mencapai ketinggian 1722 meter di atas permukaan laut. Ia sering dinamakan sebagai oasis di tengah gurun pasir, disebabkan oleh karena lokasi tersebut adalah sumber air bagi sungai, danau, air terjun serta hutan yang rimbun. Di dalam kitab Purana, daerah ini dijuluki sebagai Arbudaranya (hutannya Arbhu), dimana Abu adalah nama kecilnya. Konon diyakini bahwa rishi Vasishta mengungsikan dirinya ke bagian selatan Mount Abu setelah ia berbeda pendapat dengan rishi Vishvamitra.
viiiHonolulu adalah ibu-kota salah-satu negara bagian Amerika-Serikat (Hawaii), terletak di sebuah pulau di samudera Pasifik.
ixKashmir (Urdu: کشمیر, IPA: [kəʃˈmiːr]) adalah tempat yang terletak di bagian barat laut subkontinen India.
xKullu adalah ibu-kota distrik Kullu di negara-bagian Himachal Pradesh, India. Terletak di tepian sungai Beas di lembah Kullu.




